USA, InvestigasiPublik.com– Suasana politik Amerika Serikat kian memanas menjelang Pemilihan Presiden 2028, meski kontestasi resmi masih berjarak sekitar dua tahun.
Hasil survei terbaru dari Emerson College yang dirilis Kamis (20/8/2026) menampilkan dinamika menarik di tubuh Partai Republik: Menteri Luar Negeri Marco Rubio unggul dalam tingkat keterpilihan dibandingkan Wakil Presiden JD Vance.
Dalam simulasi elektoral yang diuji, Rubio menunjukkan daya tarik yang cukup kuat saat dihadapkan pada sejumlah tokoh utama Partai Demokrat. Dari lima skenario yang dipetakan, catatan Rubio lebih baik dibandingkan Gubernur California Gavin Newsom, mantan Wakil Presiden Kamala Harris, hingga Anggota DPR Alexandria Ocasio-Cortez.
Persaingan Ketat dan Posisi Seimbang
Meski Rubio mencatatkan keunggulan di beberapa sisi, peta persaingan secara umum masih sangat dinamis dan berimbang. Saat dipertemukan dengan mantan Menteri Perhubungan Pete Buttigieg maupun Senator Jon Ossoff, perbandingan suara antara Rubio dan Vance berada di posisi setara.
Hal ini menandakan masyarakat pemilih masih dalam tahap mempertimbangkan figur terbaik untuk memimpin pasca-masa pemerintahan sekarang.
Bayang-bayang Trump dan Batas Konstitusi
Di tengah bermunculannya nama-nama baru, nama Donald Trump tetap menjadi bagian dari wacana politik. Masih terdengar usulan agar ia bertarung untuk masa jabatan ketiga dengan alasan adanya celah mekanisme tertentu. Namun, rencana ini berbenturan langsung dengan Amendemen ke-22 Konstitusi AS yang tegas membatasi jabatan presiden maksimal dua periode.
Mengingat Trump sedang menjalani masa jabatan keduanya, aturan ini menjadi penghalang hukum yang jelas, sekaligus membuka ruang lebih luas bagi kemunculan tokoh-tokoh potensial baru seperti Rubio dan Vance sebagai kandidat utama di jalur Pilpres 2028. (ilc))/min)












