Jakarta, Investigasi Publik – Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera menegaskan pentingnya langkah mitigasi permanen pascabanjir yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Banjir terjadi setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut pada Sabtu (18/7/2026). Curah hujan yang berlangsung lebih dari satu setengah jam menyebabkan debit sungai meningkat hingga meluap ke sejumlah permukiman, terutama di Kecamatan Tukka.
Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan luapan sungai turut membawa sedimen yang menghambat aliran air di sejumlah titik, termasuk di sekitar jembatan yang menjadi akses utama masyarakat.
Koordinator Wilayah Sumatera Utara Satgas PRR, Brigjen TNI Fadjar Tjahjono, mengatakan penanganan darurat telah dilakukan secara cepat melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, BPBD, TNI, Polri, serta berbagai unsur terkait.
Menurut Fadjar, sedimen yang menumpuk di sekitar jembatan telah dibersihkan menggunakan alat berat sehingga akses transportasi masyarakat dapat kembali normal.
“Langkah mitigasi yang harus kita lakukan adalah memperkuat tanggul di sepanjang aliran sungai. Sedimen yang diangkat tidak cukup hanya ditumpuk kembali, tetapi tanggul perlu diperkuat dengan batu atau bronjong sehingga saat debit air meningkat, lumpur tidak kembali masuk ke permukiman,” ujar Fadjar di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Ia menjelaskan, Satgas PRR saat ini tengah mengonsolidasikan langkah-langkah mitigasi bersama pemerintah daerah sebagai tindak lanjut penanganan darurat. Penguatan tanggul, penataan daerah aliran sungai (DAS), serta perlindungan titik-titik rawan luapan menjadi prioritas agar penanganan tidak berhenti pada tahap pembersihan pascabanjir.
Selain itu, pemerintah telah menyiapkan dukungan anggaran untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi. Pemerintah daerah diharapkan segera mengoptimalkan pelaksanaan program mitigasi sesuai kebutuhan di lapangan guna menekan risiko banjir pada masa mendatang.
Sementara itu, selama masa tanggap darurat, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah melalui BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, dan masyarakat bergerak cepat mengevakuasi warga terdampak di Kecamatan Tukka, Badiri, Pinangsori, dan Sarudik.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi, Dinas Sosial Kabupaten Tapanuli Tengah membuka dapur umum di Aula Gereja HKBP Sipange.
Berdasarkan data sementara, banjir tersebut berdampak kepada 67 kepala keluarga (KK) atau sekitar 223 jiwa yang sempat mengungsi sebelum kondisi berangsur membaik.












