iInvestigasipublik.com // Tanah Datar
Partai Rakyat Indonesia (PRI) mulai mengonsolidasikan kekuatan politiknya di Kabupaten Tanah Datar. Melalui agenda bertajuk “Jumat Berkah”, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PRI Tanah Datar menggelar silaturahmi bersama insan pers, tokoh adat, dan tokoh masyarakat di Tigary Cafe Sijangek, Jumat (24/7/2026).
Pertemuan tersebut menjadi sinyal awal bahwa PRI tidak ingin sekadar hadir sebagai peserta dalam kontestasi politik, tetapi mulai membangun fondasi organisasi, memperluas komunikasi publik, serta menawarkan narasi politik yang berorientasi pada penyelesaian persoalan masyarakat.
Di tengah dinamika politik daerah yang terus bergerak, PRI mencoba memosisikan diri sebagai kekuatan alternatif dengan mengusung politik yang lebih substantif, bukan sekadar politik elektoral lima tahunan.
Wartawan senior sekaligus tokoh adat Tanah Datar, Dt. Godang Rajo, menilai kehadiran PRI dapat menjadi energi baru dalam demokrasi lokal. Menurutnya, masyarakat kini semakin kritis terhadap partai politik yang hanya muncul ketika memasuki masa kampanye, namun minim keberpihakan setelah memperoleh kepercayaan rakyat.
“Kami berharap PRI benar-benar menjadi angin segar bagi Tanah Datar. Jangan hanya menjadi partai baru secara nama, tetapi mampu melahirkan terobosan nyata yang dapat dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Ia mengatakan, persoalan pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, lapangan pekerjaan, hingga kesejahteraan masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan keberanian politik untuk diselesaikan. Karena itu, partai politik dituntut hadir sebagai penggerak perubahan, bukan sekadar kendaraan menuju kekuasaan.
Menjawab harapan tersebut, Ketua DPC PRI Tanah Datar, Efendi Intan Gagah, menegaskan bahwa PRI dibangun di atas semangat pengabdian dan keberpihakan kepada rakyat.
Menurutnya, politik harus dikembalikan kepada fungsi utamanya sebagai instrumen untuk memperjuangkan kepentingan publik, bukan sekadar arena perebutan kekuasaan.
“PRI hadir bukan untuk menambah daftar partai politik. Kami hadir membawa gagasan, menawarkan solusi, dan menjadi rumah perjuangan masyarakat. Pendidikan harus lebih berkualitas, pelayanan kesehatan harus semakin mudah diakses, serta UMKM harus menjadi pilar utama kebangkitan ekonomi rakyat,” ujar Efendi.
Ia menegaskan, PRI akan mengembangkan politik yang berbasis aspirasi masyarakat dengan membuka ruang dialog seluas-luasnya kepada seluruh elemen, mulai dari tokoh adat, akademisi, pemuda, pelaku UMKM, hingga insan pers.
Menurut Efendi, komunikasi politik yang sehat merupakan syarat utama dalam membangun kepercayaan publik. Karena itu, media dipandang bukan sekadar penyampai informasi, tetapi mitra strategis dalam mengawal transparansi, mengkritisi kebijakan, sekaligus menjaga kualitas demokrasi.
Komitmen tersebut mendapat apresiasi dari Pembina KWRI Tanah Datar, Bonar Surya Winata. Ia menilai langkah PRI membangun komunikasi dengan media sejak awal merupakan strategi politik yang tepat dan menunjukkan kesadaran akan pentingnya keterbukaan informasi.
“Sangat jarang partai politik yang baru hadir langsung membangun komunikasi dengan insan pers seperti ini. Ini merupakan langkah yang patut diapresiasi karena menunjukkan adanya niat baik untuk membangun hubungan yang terbuka dengan masyarakat melalui media,” katanya.
Bonar menambahkan, demokrasi tidak hanya ditentukan oleh kuatnya partai politik, tetapi juga oleh kualitas komunikasi antara partai, media, dan masyarakat. Ketiga unsur tersebut harus berjalan seiring agar fungsi kontrol sosial tetap hidup dan pembangunan daerah berlangsung secara akuntabel.
Diskusi yang berlangsung dalam suasana santai itu berkembang menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai arah pembangunan Tanah Datar ke depan. Berbagai isu strategis mulai dari penguatan ekonomi kerakyatan, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga pemberdayaan generasi muda menjadi topik yang mendapat perhatian peserta.
Silaturahmi yang dibingkai dalam semangat Jumat Berkah itu sekaligus menjadi langkah awal konsolidasi politik PRI di Tanah Datar. Namun, tantangan terbesar bagi partai berlambang rakyat tersebut bukan lagi membangun pencitraan, melainkan membuktikan bahwa komitmen politik yang disampaikan mampu diterjemahkan menjadi program nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Di tengah meningkatnya tuntutan publik terhadap lahirnya politik yang bersih, terbuka, dan berpihak kepada rakyat, kehadiran PRI menjadi warna baru dalam peta politik Tanah Datar. Kini, masyarakat akan menilai bukan dari retorika dan janji, melainkan dari konsistensi, keberanian mengambil sikap, serta kerja nyata dalam memperjuangkan kepentingan rakyat dan kemajuan Luhak Nan Tuo(DA76)












