Perkuat Mitigasi Karhutla dan Pengakuan Kearifan Lokal, Presiden Prabowo Terima Audiensi Panglima Jilah di Istana

Berita, Nasional, Terbaru45 Dilihat

Jakarta, InvestigasiPublik.com — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima kunjungan silaturahmi sekaligus audiensi Ketua Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR), Panglima Jilah, di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Pertemuan puncak tersebut fokus membahas langkah taktis penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta penguatan hak-hak masyarakat adat di Kalimantan Barat.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo memberikan dukungan penuh guna mempercepat penanggulangan karhutla melalui penambahan kekuatan personel lapangan serta dukungan alokasi sarana armada udara.

Usai pertemuan, Panglima Jilah menjelaskan bahwa pengerjaan bantuan perkuatan penanganan karhutla dari pemerintah pusat telah berjalan secara bertahap di lapangan.

“Kita membahas penanganan karhutla. Bapak Presiden membantu kita lewat penambahan personel untuk penanganan cepat di lapangan. Selain itu, Pemerintah Pusat memberikan perhatian besar bagi masyarakat Kalimantan Barat, mulai dari pembangunan rumah adat, fasilitas sekolah, bantuan infrastruktur jalan, rumah sakit, hingga kuota beasiswa pendidikan dan penerimaan TNI-Polri,” ujar Panglima Jilah.

Pelurusan Stigma Peladang dan Tata Kelola Lingkungan Berbasis Adat

Dalam kesempatan tersebut, Panglima Jilah meluruskan anggapan yang kerap menyudutkan masyarakat peladang tradisional saat peristiwa karhutla marak terjadi. Menurutnya, tradisi berladang suku Dayak dilakukan secara terukur di lahan mineral dan bukan di kawasan lahan gambut berisiko tinggi.

Ia menegaskan, masyarakat adat memiliki mekanisme kontrol sosial yang ketat dalam mengawasi proses pembakaran lahan secara terbatas. Tokoh-tokoh adat aktif memberikan edukasi agar warga tidak membakar secara sembarangan, mengingat kebudayaan Dayak melekat erat dengan kelestarian alam hutan Kalimantan.

Kemitraan antara Pemerintah Pusat dan pimpinan masyarakat adat ini menjadi sinyal kuat pentingnya kolaborasi berbasis kearifan lokal (indigenous knowledge). Penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan teknologi pemadam kebakaran semata, melainkan juga merangkul peran aktif warga adat yang telah berabad-abad menjaga ekosistem hutan secara berkelanjutan. (stp/min)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *