investigasipublik.com // Tanah Datar
Perang melawan narkoba tidak lagi cukup dilakukan melalui penindakan hukum semata. Di tengah semakin masifnya peredaran narkotika yang mulai merambah hingga ke pelosok desa dan nagari, masyarakat dituntut menjadi garda terdepan dalam menyelamatkan generasi muda dari ancaman yang dapat menghancurkan masa depan bangsa.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Sosialisasi Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 9 Tahun 2018 tentang Fasilitasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya yang digelar di Nagari Sungai Jambu, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sabtu (13/6).
Anggota Komisi I DPRD Sumatera Barat, H. Zuldafri Darma, SH, menegaskan bahwa narkoba saat ini telah menjadi ancaman nyata yang bergerak senyap di tengah masyarakat. Jika dahulu Sumatera Barat hanya dikenal sebagai daerah lintasan peredaran narkotika, kini kondisinya jauh lebih mengkhawatirkan karena telah menjadi target pasar para pelaku kejahatan narkoba.
“Kita tidak boleh menganggap persoalan ini jauh dari lingkungan kita. Narkoba bisa masuk ke mana saja, termasuk ke nagari-nagari yang selama ini dikenal kuat dengan nilai adat dan agamanya,” ujar Zuldafri.
Mantan Wakil Bupati Tanah Datar itu menilai, kekuatan terbesar dalam memerangi narkoba bukan hanya berada di tangan aparat penegak hukum, melainkan pada ketahanan sosial masyarakat itu sendiri. Menurutnya, keluarga, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, dan pemerintah nagari harus menjadi satu barisan dalam membangun sistem perlindungan bagi generasi muda.
“Kalau masyarakat bergerak bersama, pengedar akan kehilangan ruang. Nagari harus menjadi benteng pertama dan benteng terakhir dalam melindungi anak-anak kita dari bahaya narkoba,” tegasnya.
Zuldafri menjelaskan, lahirnya Perda Nomor 9 Tahun 2018 merupakan bentuk keseriusan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam memperkuat upaya pencegahan. Regulasi tersebut memberikan dasar hukum yang jelas bagi seluruh elemen masyarakat untuk terlibat aktif dalam perang melawan narkotika.
Sementara itu, Wali Nagari Sungai Jambu Wilmen, ST mengingatkan bahwa ancaman narkoba tidak mengenal batas wilayah. Karena itu, menurutnya, upaya pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat sebelum masalah berkembang menjadi ancaman yang lebih besar.
“Kita tidak ingin generasi muda Sungai Jambu kehilangan masa depan akibat narkoba. Pencegahan harus dimulai dari rumah, dari keluarga, dari lingkungan tempat mereka tumbuh,” katanya.
Komitmen serupa juga disampaikan oleh narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Eka Lusiana, SKM. Ia mengungkapkan bahwa dampak narkoba jauh lebih mengerikan daripada sekadar persoalan hukum.
Menurutnya, penyalahgunaan narkotika dapat merusak fungsi otak, mengganggu kesehatan mental, menghancurkan hubungan sosial, bahkan berujung pada kematian. Karena itu, pencegahan dini menjadi langkah paling efektif untuk memutus mata rantai penyalahgunaan narkoba.
“Keluarga adalah benteng utama. Pengawasan orang tua dan komunikasi yang baik dengan anak menjadi kunci agar mereka tidak mudah terpengaruh lingkungan negatif,” jelas Eka.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak mengucilkan korban penyalahgunaan narkotika yang sedang menjalani rehabilitasi. Dukungan sosial, katanya, menjadi faktor penting agar mereka dapat bangkit dan kembali menjalani kehidupan secara normal.
Sosialisasi yang berlangsung interaktif tersebut diikuti oleh tokoh masyarakat, pemuda, Bundo Kanduang, perangkat nagari dan warga setempat. Berbagai pertanyaan mengemuka, mulai dari langkah pencegahan, mekanisme rehabilitasi hingga strategi memperkuat ketahanan keluarga menghadapi ancaman narkoba.
Lebih dari sekadar kegiatan penyuluhan, pertemuan itu menjadi pengingat bahwa perang melawan narkoba adalah perjuangan bersama. Ketika keluarga, adat, agama, pemerintah, dan masyarakat bersatu, maka nagari tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi benteng kokoh yang menjaga masa depan generasi muda dari ancaman narkotika.“Jangan tunggu narkoba masuk ke rumah kita untuk mulai peduli. Pencegahan harus dimulai hari ini, dari lingkungan kita sendiri,” menjadi pesan kuat yang mengemuka dari kegiatan tersebut(Wln-02)


