AS Lancarkan Serangan ke-12 terhadap Iran, Konflik Selat Hormuz Ancam Ekonomi Global

Teheran, InvestigasiPublik.com – Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Kamis (23/7/2026) dini hari waktu Teheran. Serangan yang disebut sebagai operasi malam ke-12 tersebut terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara kedua negara yang kini mulai menyasar infrastruktur sipil dan memicu kekhawatiran dunia.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran sipil dan kapal-kapal komersial di kawasan. Pemerintah AS juga menegaskan komitmennya untuk memulihkan keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia.

Presiden AS Donald Trump turut meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Melalui akun Truth Social, Trump memperingatkan bahwa setiap serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz akan dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur strategis Iran.

“Mulai sekarang, setiap kali Republik Islam Iran menembaki kapal di Selat Hormuz, baik dengan rudal, roket, drone maupun senjata lainnya, Amerika Serikat akan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik,” tulis Trump.

Pernyataan tersebut muncul ketika upaya diplomatik antara kedua negara belum menunjukkan kemajuan berarti. Perselisihan mengenai penguasaan dan keamanan Selat Hormuz masih menjadi salah satu isu utama yang memperumit penyelesaian konflik.

Di pihak lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya akan menerapkan prinsip “mata ganti mata” terhadap setiap serangan yang ditujukan kepada Iran.

“Setiap agresi terhadap Iran, termasuk terhadap infrastruktur kami, akan memicu respons yang kuat dan tegas,” tulis Araghchi melalui platform X.

Infrastruktur Sipil Ikut Terdampak

Konflik yang terus berlangsung membuat kedua negara saling menuding telah menyerang fasilitas sipil. Iran disebut membalas serangan AS dengan menyasar infrastruktur energi dan fasilitas desalinasi air di kawasan Teluk, sementara AS mengklaim operasi militernya tetap diarahkan pada sasaran yang dianggap memiliki nilai strategis.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengecam serangan terhadap infrastruktur sipil dan mengingatkan seluruh pihak agar mematuhi hukum humaniter internasional.

Dampak Terhadap Ekonomi Global

Ketegangan di Selat Hormuz mulai berdampak terhadap pasar energi dunia. Jalur tersebut merupakan rute pengiriman sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas global, sehingga gangguan keamanan langsung memengaruhi harga energi internasional.

Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak hingga di atas US$93 per barel, meningkat tajam dibandingkan awal bulan yang masih berada di kisaran US$72 per barel. Kenaikan tersebut juga diikuti meningkatnya harga bahan bakar di sejumlah negara.

Serangan Meluas ke Kawasan

Militer Yordania melaporkan berhasil mencegat beberapa rudal dan drone yang diluncurkan Iran di wilayah udara dekat Kota Aqaba. Sementara itu, Bahrain dan Arab Saudi sempat mengeluarkan peringatan kepada masyarakat untuk mencari perlindungan sebelum akhirnya menyatakan situasi kembali aman.

Di Iran, kantor berita resmi IRNA melaporkan sejumlah ledakan terjadi di beberapa provinsi. Kementerian Kesehatan Iran menyebut serangan selama 11 hari terakhir telah menewaskan 53 orang dan melukai hampir 600 orang.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan operasi balasan terhadap AS akan terus dilakukan selama konflik masih berlangsung.

Diplomasi Masih Terbuka

Di tengah meningkatnya eskalasi, Iran tetap membuka jalur diplomasi. Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni dilaporkan melakukan kunjungan ke Pakistan sebagai bagian dari upaya mendorong penyelesaian konflik.

Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Iran Ali Zeinivand menegaskan komunikasi diplomatik masih berlangsung meskipun situasi di lapangan terus memanas.

“Diplomasi tidak dihentikan dan komunikasi antar pihak masih terus berjalan,” ujarnya.

Hingga kini belum ada kepastian mengenai peluang tercapainya kesepakatan damai, sementara konflik di sekitar Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama masyarakat internasional karena berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan dan ekonomi global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *