Maulid Nabi di Rutan Padang Panjang, Menemukan Jalan Pulang Lewat Keteladanan Rasulullah

Daerah16 Dilihat

investigasipublik.com //  Padang Panjang

Di balik tembok dan jeruji, selalu ada ruang untuk berubah. Ada harapan yang terus tumbuh, ada hati yang ingin diperbaiki, dan ada jalan panjang menuju kehidupan yang lebih baik.

Semangat itulah yang terasa dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang digelar Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Padang Panjang di Aula Rutan, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh suasana kekeluargaan. Tidak hanya diikuti jajaran petugas Rutan, tetapi juga peserta Maganghub Kementerian Ketenagakerjaan RI serta Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

Bagi warga binaan, peringatan Maulid Nabi bukan sekadar mengenang kelahiran manusia mulia. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk kembali melihat ke dalam diri, menata hati, dan mengambil pelajaran dari perjalanan hidup Rasulullah SAW.

Kepala Rutan Kelas IIB Padang Panjang, Novri Abbas, mengajak seluruh peserta menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum introspeksi sekaligus menumbuhkan semangat untuk terus memperbaiki diri.

“Melalui peringatan Maulid Nabi ini, mari kita bersama-sama mengambil pelajaran dari sejarah perjalanan hidup Rasulullah SAW serta berusaha menerapkan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Novri Abbas.

Pesan itu kemudian diperdalam melalui tausiah yang disampaikan Ustadz H. Sehabudin, SH., M.M.Pd atau yang akrab disapa Buya Ade.

Di hadapan para petugas dan warga binaan, Buya Ade mengingatkan bahwa mencintai Rasulullah SAW tidak berhenti pada lantunan selawat maupun peringatan seremonial. Kecintaan itu harus terlihat dalam cara seseorang bersikap, berbicara dan memperlakukan sesama.

Ia mengajak peserta mengenal perjalanan Rasulullah SAW, termasuk perjuangan, kesabaran dan keteguhan beliau ketika menghadapi berbagai cobaan dalam menyampaikan risalah Islam.

Kejujuran, amanah, kasih sayang, kesabaran dan kepedulian terhadap sesama menjadi nilai-nilai yang menurutnya harus terus dihidupkan dalam keseharian.

“Rasulullah SAW merupakan teladan terbaik bagi umat manusia. Karena itu, mencintai Rasulullah bukan hanya dengan ucapan, tetapi juga dengan berusaha mengikuti akhlak dan ajaran yang beliau contohkan,” pesan Buya Ade.

Pesan tersebut terasa semakin bermakna di lingkungan pemasyarakatan. Sebab, proses memperbaiki diri tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, ia bermula dari keberanian mengakui kesalahan, kemauan untuk berubah dan keyakinan bahwa setiap manusia masih memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Karena itu, peringatan Maulid Nabi di Rutan Padang Panjang menjadi bagian dari pembinaan yang menyentuh sisi paling mendasar dalam diri manusia: hati dan karakter.

Pembinaan warga binaan tidak hanya tentang keterampilan untuk menghadapi kehidupan setelah bebas. Lebih jauh, pembinaan juga tentang membangun kembali kepercayaan diri, memperkuat mental spiritual dan menanamkan nilai-nilai yang dapat menjadi pegangan ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.

Melalui momentum Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Rutan Padang Panjang berharap keteladanan Rasulullah dapat menjadi cahaya bagi setiap langkah perubahan warga binaan.

Sebab pada akhirnya, pemasyarakatan bukan hanya tentang menjalani masa hukuman.

Ia adalah tentang memberi kesempatan untuk berubah, menumbuhkan harapan, dan mempersiapkan setiap manusia untuk menemukan jalan pulangnya menuju kehidupan yang lebih baik(DA76)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *