Sumenep, InvestigasiPublik.com – Tim Kandidat Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Malang (UNISMA) menggelar kegiatan Doktor Mengabdi bertema “Penguatan Pendidikan Islam Multikultural melalui Pelatihan Moderasi Beragama” di Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin, Kolor, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian akademisi untuk memperkuat nilai toleransi, inklusivitas, dan pemahaman keagamaan yang ramah di lingkungan pesantren.
Pelatihan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni H. Dul Siam, S.Ag., M.Pd., pimpinan DPRD Kabupaten Sumenep; Nur Kholis Majid, S.Pd., M.Pd., pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Islam, Sapeken; serta Raudlatun, S.HI., M.Pd.I.
Pelatihan berfokus pada penguatan nilai-nilai multikultural dan penanaman kesadaran mengenai pentingnya menghargai keberagaman budaya serta pemikiran dalam bingkai ajaran Islam.
Melalui kegiatan ini, santri dan tenaga pengajar diharapkan memperoleh pemahaman tentang moderasi beragama atau wasathiyah, yakni sikap beragama yang seimbang, mengedepankan kebijaksanaan, serta menghargai perbedaan.
Penguatan moderasi beragama juga diharapkan membantu santri memahami ajaran Islam secara santun dan inklusif, sekaligus membangun ketahanan terhadap pemahaman ekstrem maupun narasi keagamaan yang memicu perpecahan.
Selain toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan, pelatihan ini menyoroti pentingnya literasi digital. Santri diharapkan mampu memilah informasi, memeriksa kebenaran sumber, serta mengenali narasi provokatif terkait isu keagamaan yang beredar di media sosial.
Bagi Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin, penguatan pendidikan Islam multikultural berpotensi memperkaya materi pembelajaran dengan wawasan keberagaman tanpa menghilangkan identitas keislaman dan tradisi kepesantrenan.
Kegiatan ini juga membuka ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pesantren, dan unsur pemerintahan dalam merawat kerukunan umat. Keterlibatan akademisi UNISMA, tokoh DPRD Sumenep, dan pimpinan pesantren diharapkan memperkuat upaya membangun lingkungan pendidikan yang terbuka terhadap perbedaan.
Melalui program Doktor Mengabdi, penguatan moderasi beragama diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran dan praktik keseharian di lingkungan pesantren maupun masyarakat.








