Adhi Karya Optimistis Bisnis Konstruksi Nasional Tetap Menjanjikan

Berita, Terbaru331 Dilihat

Jakarta, InvestigasiPublik.com – PT Adhi Karya (Persero) Tbk menilai prospek bisnis konstruksi nasional sepanjang 2026 masih terbuka, seiring kebutuhan pembangunan infrastruktur yang terus berlanjut.

Direktur Utama Adhi Karya, Moeharmein Zein Chaniago, mengatakan kebutuhan pembangunan nasional tetap ada di tengah berbagai dinamika bisnis yang terjadi.

Menurutnya, pembangunan dibutuhkan untuk mendukung konektivitas, pengembangan kawasan, hilirisasi dan industrialisasi, transportasi, sumber daya air hingga penyediaan fasilitas publik.

“Kami melihat prospek bisnis konstruksi nasional masih cukup besar. Kebutuhan pembangunan di Indonesia tetap terbuka dan sejalan dengan program pemerintah melalui Asta Cita,” kata Moeharmein saat wawancara bersama CNBC Indonesia, Selasa (6/10/2026).

Ia menjelaskan, sejumlah program pemerintah, seperti swasembada pangan, energi dan air, hilirisasi, industrialisasi serta penguatan sumber daya manusia, turut mendorong kebutuhan pembangunan infrastruktur strategis.

Kebutuhan tersebut antara lain pembangunan pabrik pupuk, smelter, Sekolah Rakyat, bendungan dan jaringan irigasi.

Selain itu, terdapat kebutuhan pembangunan fasilitas pendukung sektor perikanan dan pertanian, seperti tambak garam, tambak ikan dan tambak udang.

Sebagai BUMN konstruksi, Adhi Karya menyatakan siap mendukung pembangunan nasional melalui kompetensi di bidang engineering dan konstruksi.

Perusahaan saat ini terlibat dalam sejumlah proyek, di antaranya pembangunan Sekolah Rakyat tahap pertama dan kedua, Jalan Tol Solo–Yogyakarta, Jalan Tol Yogyakarta–Bawen, kampung nelayan, bendungan, serta proyek hilirisasi dan industrialisasi berbasis Engineering, Procurement and Construction (EPC).

Moeharmein mengatakan, sejalan dengan arahan Danantara, BUMN konstruksi diarahkan kembali fokus pada bisnis inti atau back to core business.

Langkah tersebut, menurutnya, diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan bisnis yang lebih sehat dan berkualitas.

“Pengembangan bisnis tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada kualitas dan kesehatan bisnis itu sendiri. Bagi Adhi Karya, yang penting adalah bagaimana peluang tersebut dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan yang berkualitas dengan memperkuat core business dan menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dari sisi kinerja, hingga akhir Agustus 2026, Adhi Karya membukukan kontrak baru sekitar Rp8,9 triliun.

Sebanyak 92 persen dari nilai kontrak tersebut berasal dari lini Engineering and Construction yang menjadi salah satu penopang utama bisnis perusahaan.

Saat ini, Adhi Karya mengelola sekitar 117 proyek aktif yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Proyek tersebut mencakup sektor infrastruktur, gedung, perkeretaapian, energi, industri, hingga proyek tanggap darurat di Aceh dan Sumatera Utara.

Moeharmein mengatakan perusahaan saat ini tidak hanya mengejar penambahan kontrak, tetapi juga mempertimbangkan kesesuaian proyek dengan kompetensi dan kemampuan perusahaan.

Menurutnya, setiap proyek yang diambil harus memiliki risiko terukur, struktur kontrak yang sehat serta dapat diselesaikan secara optimal.

“Kami tidak hanya fokus mendapatkan kontrak, tetapi juga memastikan proyek dapat dijalankan secara sehat, berkualitas, dan berkelanjutan sehingga memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan mendukung pembangunan nasional,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *