Dari Belukar Jadi Kawasan Produktif, Desa Lesung Batu Kembangkan Lahan Adat 5,5 Hektare

Berita, Daerah, Terbaru275 Dilihat

Padang, InvestigasiPublik.com — Lahan adat seluas 5,5 hektare di Desa Lesung Batu, Kecamatan Mulak Ulu, Kabupaten Lahat, yang sebelumnya hanya dipenuhi belukar, kini mulai berubah menjadi kawasan produktif.

Di atas lahan tersebut, Pemerintah Desa Lesung Batu mengembangkan sejumlah usaha berbasis potensi lokal, mulai dari kebun buah, kolam perikanan, peternakan hingga budidaya maggot. Kawasan itu juga dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung, seperti sarana olahraga, kantor desa dan Koperasi Merah Putih.

Pengembangan lahan adat tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Desa Lesung Batu di bawah kepemimpinan Kepala Desa Radius Prawira, S.P., untuk mendorong kemandirian desa sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Kisah pengembangan lahan tersebut dibahas dalam PWI Lahat Podcast yang dipandu Ketua PWI Lahat Ehdi Amin, Jumat (2/10/2026).

Ehdi menilai langkah yang dilakukan Pemerintah Desa Lesung Batu menunjukkan adanya upaya untuk mengembangkan potensi desa tidak hanya melalui pembangunan fisik. Menurutnya, kawasan agrowisata yang mulai dirintis juga dapat menjadi inspirasi bagi desa lain di Kabupaten Lahat.

“Ini bisa menjadi motivasi bagi desa-desa lain. Tapi tentu kita ingin tahu, apa saja tantangan terberatnya?” tanya Ehdi.

Radius mengatakan tantangan terbesar justru bukan membangun berbagai fasilitas, melainkan mengubah pola pikir masyarakat agar melihat lahan adat sebagai aset yang dapat dikelola secara produktif.

Lahan seluas 5,5 hektare tersebut kini telah disertifikatkan sebagai aset desa. Dengan status tersebut, pengelolaannya diarahkan tetap menjadi bagian dari aset desa dan tidak melekat pada kepentingan pribadi pejabat yang sedang menjabat.

“Awalnya lahan ini hanya belukar. Kita manfaatkan untuk kebun buah, kemudian berkembang ke kolam lele, maggot dan kandang ayam kampung,” ujar Radius.

Pengembangan kawasan kemudian diperluas ke sektor perikanan. Saat ini terdapat 20 kolam terpal dan tiga kolam beton yang digunakan untuk pembesaran lele, nila dan ikan mas.

Menurut Radius, hasil budidaya lele bahkan telah dipasok ke salah satu dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Jumlah yang disebut telah disalurkan mencapai 200 kilogram sebanyak dua kali dalam sepekan.

“Hasil penjualan dikembalikan untuk operasional usaha dan sebagian masuk ke kas desa. Kendalanya masih pada kebutuhan bibit dan pakan yang cukup besar. Kita akui masih banyak kekurangan. Tapi setidaknya kita sudah berusaha sampai di titik bagaimana desa bisa mandiri,” katanya.

Radius mengatakan pengembangan kawasan tersebut ke depan tidak hanya diarahkan sebagai agrowisata. Pemerintah desa juga menargetkan Lesung Batu dapat berkembang menjadi desa edukasi, sehingga kawasan produktif itu tidak hanya menghasilkan secara ekonomi, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat.

Ia berharap berbagai program yang telah dirintis dapat berjalan sebelum masa jabatannya berakhir dan manfaatnya dapat terus dirasakan masyarakat.

“Harapan saya di akhir masa jabatan nanti, semua sudah berjalan lancar, sehingga masyarakat bisa terus menikmati hasil dari keberadaan lahan adat yang dijadikan lahan produktif tersebut,” ujarnya.

Menutup podcast, Ehdi mengatakan pengalaman Desa Lesung Batu menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak selalu harus berorientasi pada pembangunan fisik.

Menurutnya, lahan, pangan dan sumber daya lokal dapat menjadi modal untuk menggerakkan aktivitas ekonomi apabila dikelola secara produktif dan berkelanjutan.

“Yang paling penting bukan seberapa besar yang dibangun, tetapi bagaimana desa mampu menciptakan sesuatu yang produktif, dikelola secara terbuka dan hasilnya kembali untuk masyarakat. Ini yang harus menjadi semangat masyarakat Desa Lesung Batu sendiri dan desa-desa lainnya,” kata Ehdi. (EY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *