Padang, InvestigasiPublik.com — Musik tradisional Minangkabau terus menemukan ruang ekspresi baru di tengah perkembangan teknologi. Salah satunya melalui karya Komposer Muda asal Kota Padang, Dimas Hidayatullah, yang mengolah Saluang Pauh ke dalam komposisi musik digital tanpa menghilangkan karakter tradisinya.
Karya tersebut ditampilkan Dimas bersama empat rekannya dalam Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumatera Barat (Sumbar) Saraso Fest 2026 di Taman Budaya Sumbar, Selasa (29/9/2026) malam.
Dalam penampilannya, Dimas mengusung karya berjudul “Pauh in Resonance” dengan menjadikan repertoar Saluang Pauh “Pado-Pado” yang berasal dari Kecamatan Kuranji, Kota Padang, sebagai sumber utama komposisi.
Pertunjukan diawali dengan karakter bunyi Saluang Pauh yang kuat. Motif Pado-Pado kemudian dikembangkan secara bertahap sebelum unsur elektronik masuk dan membentuk lapisan suara baru.
Perpaduan tersebut membawa karakter musik tradisional ke dalam nuansa musik tekno dan digital. Namun, pengembangan itu tidak dimaksudkan untuk menggantikan identitas Saluang Pauh. Motif tradisional tetap menjadi fondasi, sedangkan teknologi digunakan untuk memperluas warna dan ruang ekspresinya.
Dimas menjelaskan, motif dasar Pado-Pado tetap dipertahankan. Ia memilih mengembangkan motif tersebut kemudian mempertemukannya dengan elemen musik elektronik.
“Tidak ada yang dirubah, hanya motifnya yang dikembangkan yaitu Saluang Pauh, Pado-Pado dari Kecamatan Kuranji Kota Padang saya kombinasikan dengan musik tekno,” kata Dimas.
Konsep “Pauh in Resonance” menggunakan pendekatan World Electronic Music. Dalam proses penggarapannya, Dimas mengeksplorasi sejumlah teknik produksi musik digital, seperti sampling, looping, delay, reverb, dan filtering.
Teknik tersebut digunakan untuk mengolah karakter suara Saluang Pauh sekaligus membangun tekstur dan lanskap bunyi yang berbeda dari penyajian tradisional.
Dengan pendekatan itu, Pado-Pado tidak hanya ditempatkan sebagai repertoar yang dimainkan kembali. Motifnya dikembangkan menjadi material komposisi yang mempertemukan karakter musik tradisi Minangkabau dengan teknologi musik modern.
Menurut Dimas, proses penggarapan karya tersebut berlangsung sekitar dua bulan. Tantangan yang dihadapinya lebih berkaitan dengan pembagian waktu karena dirinya juga memiliki aktivitas sebagai mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP).
“Saya menyusun ini dua bulanan kurang lebih. Kesulitan hanya waktu. Karena saya punya kesibukan lain,” ujarnya.
Karya tersebut menunjukkan salah satu kemungkinan pengembangan musik tradisional melalui pendekatan kontemporer. Saluang Pauh tetap ditempatkan sebagai identitas utama, sementara teknologi digital menjadi medium untuk mengeksplorasi bentuk penyajian yang berbeda.
Melalui “Pauh in Resonance”, Dimas membawa Pado-Pado dari ruang tradisi ke ruang digital. Eksplorasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengembangan bentuk penyajian dapat dilakukan dengan tetap menjadikan akar budaya sebagai pijakan.






