Ketum JMSI: UKW Bukan Formalitas, Wartawan Harus Waspadai Jebakan Algoritma

Berita, Nasional, Terbaru269 Dilihat

Jakarta, InvestigasiPublik.com – Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Dr. Teguh Santosa, menegaskan bahwa Uji Kompetensi Wartawan (UKW) bukan sekadar agenda formalitas. Di tengah derasnya arus informasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), kompetensi wartawan dinilai semakin penting untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang berkualitas.

Hal itu disampaikan Teguh saat membuka UKW hasil kerja sama JMSI dan Pikiran Rakyat di Hall Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (30/9/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat, jajaran penguji serta peserta UKW.

Menurut Teguh, wartawan berkualitas harus berjalan beriringan dengan perusahaan pers yang profesional. Keduanya menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas pers nasional di tengah perubahan ekosistem informasi.

“Mestinya, wartawan yang berkualitas dan media profesional ini dapat berjalan seiring, sehingga pers nasional kita benar-benar berkualitas dan mampu menyehatkan demokrasi, bukan sekadar memproduksi kebisingan,” ujarnya.

Tantangan AI dan Algoritma

Teguh juga menyoroti tantangan yang dihadapi industri media seiring masifnya penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di ruang digital. Perkembangan AI, menurutnya, semakin memperbesar kompleksitas persoalan tersebut.

Dalam kondisi itu, wartawan tidak cukup hanya cepat dalam menyampaikan informasi. Kemampuan melakukan riset dan memeriksa informasi secara mendalam menjadi semakin penting.

Teguh mendorong wartawan membangun budaya riset agar tidak sekadar mengikuti arus informasi yang dibentuk oleh algoritma media sosial.

“Jika wartawannya rajin meriset, secara teoretis masyarakat akan selamat dari jebakan optik algoritma atau yang oleh Prof. Komaruddin disebut sebagai algo-sapiens,” jelasnya.

Istilah tersebut merujuk pada kondisi ketika manusia semakin bergantung pada sistem algoritmik dalam menentukan informasi yang dibaca, ditonton, dipercaya, bahkan dianggap penting.

Usulan Satu NIK Satu Akun

Teguh menilai persoalan ruang digital tidak cukup ditangani hanya dari sisi hilir. Menurutnya, terdapat persoalan lain berupa kesenjangan antara identitas di dunia nyata dengan aktivitas di dunia maya, terutama karena keberadaan akun anonim.

Ia menggambarkan derasnya arus informasi tersebut seperti tsunami yang mengotori sumber air. Dalam kondisi demikian, masyarakat tetap membutuhkan sumber informasi yang bersih dan dapat dipercaya.

Karena itu, Teguh melontarkan gagasan penataan ruang digital, salah satunya melalui kebijakan satu Nomor Induk Kependudukan (NIK) untuk satu akun media sosial.

“Salah satu bentuk mitigasi yang mungkin kontroversial—dan mohon maaf jika keliru, tetapi tetap perlu saya suarakan—adalah pemberlakuan kebijakan satu NIK untuk satu akun media sosial,” tuturnya.

Gagasan tersebut, diakuinya, berpotensi memunculkan perdebatan karena berkaitan dengan kebebasan berpendapat dan tata kelola ruang digital.

Namun, Teguh mengatakan persoalan yang ingin disorot bukan semata-mata kebebasan berpendapat, melainkan cara algoritma memilih dan menyajikan konten kepada pengguna.

“Persoalan sesungguhnya bukanlah tentang kebebasan itu, melainkan bagaimana algoritma saat ini secara manipulatif memilihkan konten-konten tertentu… sehingga energi publik habis hanya untuk membahas hal tersebut,” tambahnya.

Wartawan Dituntut Tetap Kritis

Di tengah perubahan tersebut, Teguh berharap peserta UKW tidak berhenti pada pemenuhan standar kompetensi, tetapi terus menjaga idealisme dan kemampuan jurnalistik.

Menurutnya, wartawan memiliki peran penting dalam menghadirkan informasi yang telah melalui proses verifikasi dan riset, terutama ketika masyarakat berhadapan dengan banjir informasi yang sebagian telah disaring dan diarahkan oleh algoritma.

UKW, dengan demikian, tidak hanya menjadi ukuran kompetensi seorang wartawan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat profesionalisme pers di tengah perubahan teknologi informasi yang berlangsung cepat.

Tantangan wartawan ke depan bukan hanya bagaimana menjadi yang pertama menyampaikan berita, tetapi bagaimana memastikan informasi yang disampaikan tetap akurat, relevan, terverifikasi, dan tidak terjebak dalam arus “kebisingan” algoritma. (Nov/Ril)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *