Bukittinggi, InvestigasiPublik.com— Anggota Komisi IX DPR RI Ade Rezki Pratama mendorong penguatan peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) dalam mendukung program pembangunan keluarga dan percepatan penurunan stunting di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.
Dorongan tersebut disampaikan Ade Rezki saat menghadiri sosialisasi program nasional Bangga Kencana bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN di Gulai Bancah, Bukittinggi, Sabtu (19/9/2026).
Menurut Ade Rezki, penanganan stunting tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Keluarga, kader, tenaga kesehatan, serta berbagai unsur masyarakat perlu terlibat sejak pencegahan hingga pendampingan terhadap keluarga berisiko.
Ia menilai peran TPK yang terdiri dari kader PKK dan kader keluarga berencana penting karena mereka bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Tugas kader dan tim bersama masyarakat bernilai ibadah. Cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak bisa diraih tanpa usaha keras kita bersama, khususnya dalam penekanan prevalensi dan memerangi stunting,” ujar Ade Rezki.
Legislator asal Partai Gerindra itu juga mengapresiasi keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, Forkopimda, TNI-Polri hingga tokoh masyarakat dalam mendukung program pembangunan keluarga.
Ia mengatakan DPR RI turut mendorong penguatan anggaran Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN. Menurut Ade, terdapat penambahan anggaran sebesar Rp432 miliar sehingga pada 2027 anggarannya menjadi sekitar Rp4 triliun.
“Kami dari DPR RI telah mengupayakan dengan penambahan anggaran Kemendukbangga ada kenaikan Rp432 miliar hingga di 2027 menjadi Rp4 triliun. Tentunya dana pendampingan TPK bisa lebih baik ke depannya,” katanya.
Keluarga Jadi Fondasi Pencegahan
Ade mengatakan Program Bangga Kencana harus dimulai dari penguatan keluarga sebagai unit terkecil masyarakat.
Ia mengaitkan persoalan pembangunan keluarga dengan kondisi rumah tangga yang dapat berdampak terhadap tumbuh kembang anak. Menurutnya, konflik rumah tangga, termasuk perselisihan yang melibatkan pihak ketiga dan kekerasan dalam rumah tangga, dapat memengaruhi kondisi anak.
“Apa lagi anak-anak yang masih butuh perhatian orang tua. Ketika mereka akhirnya dititipkan ke kerabat, tentu perhatian yang diberikan tidak akan maksimal untuk menunjang masa depan mereka,” ujarnya.
Ade menegaskan Bangga Kencana merupakan salah satu kerangka pembangunan manusia yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses pembangunan.
“Orientasinya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan generasi masa depan,” katanya.
Stunting Bukittinggi Masih Perlu Diwaspadai
Kepala Perwakilan BKKBN Sumatera Barat Mardalena Wati Yulia mengatakan penurunan prevalensi stunting di Bukittinggi perlu terus dipertahankan.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, prevalensi stunting Bukittinggi pada 2024 berada di angka 16,8 persen. Angka tersebut disebut lebih rendah dibandingkan prevalensi Sumatera Barat sebesar 24,9 persen dan nasional 19,8 persen, tetapi masih berada di atas target pemerintah sebesar 14 persen.
Mardalena mengingatkan penurunan angka tersebut tidak berarti persoalan stunting telah selesai.
“Kita membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang sehat dan berkualitas. Namun di satu sisi kita masih menghadapi anak-anak kita yang stunting. Ini akan menghambat mereka di masa depan, ini tugas kita bersama,” kata Mardalena.
Menurutnya, pencegahan stunting dapat dilakukan melalui berbagai intervensi sejak masa kehamilan hingga anak tumbuh dan berkembang. Di antaranya pemenuhan gizi seimbang bagi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, MPASI yang tepat, imunisasi, menjaga kebersihan, serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin.
Dalam proses tersebut, TPK memiliki posisi penting karena kader berada dekat dengan keluarga dan dapat mengetahui kondisi masyarakat secara langsung.
“Dalam pelaksanaannya, TPK memegang peran penting untuk memastikan bantuan makanan bergizi dapat diterima oleh sasaran yang tepat. TPK lah yang memiliki kemampuan untuk mengenali kondisi masyarakat secara langsung,” ujarnya.
GENTING Jadi Gerakan Bersama
Dinas P3APPKB Kota Bukittinggi menyebut stunting masih menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan sumber daya manusia.
Untuk mempercepat penurunan angka stunting, Pemerintah Kota Bukittinggi bersama lintas sektor menjalankan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING).
Program tersebut menjadi salah satu bentuk gotong royong masyarakat dalam mendukung keluarga yang membutuhkan pendampingan, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Penguatan TPK, menurut para pihak dalam kegiatan tersebut, menjadi bagian penting agar berbagai intervensi pemerintah dapat benar-benar menjangkau keluarga sasaran dan dilakukan secara berkelanjutan.





