Bukan Sekadar Ngopi: Lisda Hendrajoni “Kuliahkan” Empat Pilar Kebangsaan di La Scholae Padang

Lisda Hendrajoni dialog empat pilar kebangsaan bersama generasi muda di La Scholae Padang
Anggota DPR RI Lisda Hendrajoni berdialog dengan generasi muda dalam kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di coffee shop La Scholae, Padang.

PADANG, INVESTIGASI PUBLIK – Di sudut coffee shop La Scholae yang biasanya dipenuhi perbincangan ringan anak muda dan deru mesin espresso, Kamis (13/3) sore, suasana berubah menjadi ruang diskusi kebangsaan yang substansial.

Anggota DPR RI, Hj. Lisda Hendrajoni, memilih tempat ini bukan sekadar untuk menyeruput kopi, melainkan untuk menanamkan fondasi karakter bangsa melalui forum dialog interaktif bertajuk “Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Empat Pilar Kebangsaan.”

Suasana santai namun sarat makna terlihat sejak acara dimulai. Jauh dari formalitas ruang sidang atau seremonial aula, Lisda duduk melingkar bersama puluhan generasi muda, mahasiswa, dan tokoh masyarakat.

Dengan latar suasana coffee shop yang akrab, politisi yang akrab disapa Bunda Lisda itu membedah nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dengan bahasa yang cair dan kontekstual.

“Ini bukan indoktrinasi. Ini adalah transfer value dengan cara yang mereka pahami. Generasi muda hari ini hidup di era disrupsi, mereka membutuhkan pegangan. Saya memilih La Scholae karena di sinilah denyut nadi anak muda berdetak. Saya ingin datang ke dunia mereka, bukan memanggil mereka ke dunia saya,” ujar Lisda yang disambut aplaus para peserta.

Lebih dari sekadar penyampaian materi, kegiatan ini dirancang sebagai ruang silaturahmi tanpa sekat. Lisda yang juga dikenal sebagai legislator dari Daerah Pemilihan Sumatera Barat I berdialog hangat, mendengarkan pandangan generasi Z tentang tantangan menjaga persatuan di era media sosial, sekaligus memberikan perspektif kebangsaan yang aplikatif.

Zul Mamak, tokoh masyarakat Lubuk Kilangan yang hadir dalam kesempatan tersebut, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut.

“Pendidikan karakter itu fondasi utama. Jika karakter sudah kuat, anak-anak kita tidak akan mudah terombang-ambing. Kegiatan seperti ini sangat tepat, apalagi dilaksanakan di tempat yang dekat dengan keseharian mereka. Kami di Lubuk Kilangan mendukung penuh upaya-upaya seperti ini,” ujarnya.

Kegiatan yang berlangsung lebih dari dua jam itu menjadi bukti bahwa nilai-nilai kebangsaan tidak harus disampaikan secara kaku. Lisda menunjukkan bahwa diskusi tentang empat pilar kebangsaan tetap relevan, bahkan di tempat nongkrong favorit generasi milenial.

“Ini baru permulaan. Saya akan terus turun ke ruang-ruang publik. Karena karakter bangsa yang kuat lahir dari dialog, bukan dari instruksi. Dan hari ini, kita memulainya dengan segelas kopi dan secangkir semangat kebangsaan,” tutup Lisda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *