Oleh: Novita sari yahya
Ruang aula itu dipenuhi cahaya. Lampu-lampu putih menggantung tinggi dan memantulkan kilau pada lantai yang mengilap. Musik mengalun lembut. Para penonton duduk rapi dengan mata tertuju ke panggung. Di sana, deretan finalis berdiri dengan senyum yang terlatih. Gaun panjang membingkai tubuh mereka. Sorot kamera bergerak perlahan, menangkap setiap sudut wajah yang memperlihatkan kecantikan finalis.
Nadira berdiri di barisan ketiga dari kiri. Nomor peserta terpasang di pinggangnya. Rambutnya disanggul sederhana. Riasannya tidak berlebihan. Ia menatap lurus ke depan, tetapi pikirannya berjalan jauh melampaui dinding aula itu.
Ia teringat rumah kecil di pinggir kota. Ia teringat ibunya yang duduk di kursi kayu, menonton siaran langsung melalui layar ponsel. Ia juga teringat komentar yang beredar di media sosial sejak ia diumumkan sebagai finalis.
Cantik saja tidak cukup.
Ajang seperti ini hanya menjual penampilan.
Perempuan dipajang untuk dinilai.
Kalimat-kalimat itu selalu menjadi perdebatan netizen Ia membacanya dan berusaha menenangkan perasaannya
Sejak kecil, Nadira terbiasa mendengar batasan. Perempuan harus santun. Perempuan tidak perlu tampil terlalu menonjol. Ia tumbuh dengan aturan tidak tertulis yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Tidak semua aturan buruk, tetapi sebagian membuatnya seperti mengekang langkahnya.
Ketika seleksi ajang kecantikan diumumkan, ia mendaftar tanpa banyak bicara. Ia ingin membuktikan bahwa perempuan dapat berdiri di ruang publik dengan pikirannya. Ia ingin menyampaikan gagasan tentang pendidikan dan literasi yang selama ini ia perjuangkan di kampungnya.
Proses karantina memberinya pengalaman baru. Ia mengikuti pelatihan berbicara di depan umum. Ia belajar etika pergaulan internasional. Ia berdiskusi tentang isu sosial dan peran perempuan dalam pembangunan. Semua itu membuka wawasannya.
Namun, di balik kelas-kelas resmi itu, ada kenyataan lain yang tidak tertulis di brosur.
Di ruang ganti, percakapan lebih sering berkisar pada ukuran tubuh dan warna kulit. Seorang peserta menangis karena merasa terlalu gemuk di foto. Peserta lain sibuk membaca komentar di layar ponselnya. Semua finalis ingin terlihat menarik di bawah lampu sorot.
Nadira menyaksikan semuanya tanpa banyak komentar. Ia memahami tekanan itu nyata. Standar kecantikan tidak pernah netral. Ia dibentuk oleh industri, iklan, dan selera pasar.
Suatu sore, beberapa hari sebelum malam final, ia duduk sendirian di lobi hotel. Televisi menayangkan perdebatan tentang ajang yang ia ikuti. Seorang pengamat menyebut kompetisi ini sebagai bentuk eksploitasi terselubung. Di sisi lain, seorang narasumber lain membela dengan mengatakan bahwa ajang tersebut membuka peluang internasional bagi perempuan Indonesia.
Nadira memandangi layar tanpa suara. Ia merasa seperti berada di tengah arus yang saling bertentangan. Ia tidak sepenuhnya setuju pada satu sisi, tetapi juga tidak mampu menolak sisi yang lain.
“Wajahmu terlihat lelah,” ujar Livia, teman sekamarnya, sambil duduk di sampingnya.
“Aku sedang berpikir,” jawab Nadira pelan.
“Semua orang punya pendapat. Kita tidak bisa mengendalikan itu.”
Nadira mengangguk. “Aku hanya tidak ingin menjadi simbol tanpa makna.”
Livia tersenyum tipis. “Makna itu kita yang menentukan.”
Percakapan itu berhenti sampai di sana, tetapi kalimat terakhir Livia tinggal lama di benaknya.
Malam puncak tiba dengan kemegahan yang sudah di rancang penyelenggara. Aula penuh. Musik menggelegar. Sorak penonton memenuhi ruangan. Satu per satu finalis berjalan di atas panggung dengan langkah gemulai.
Ketika namanya dipanggil, Nadira melangkah mantap. Ia merasakan hangat lampu di wajahnya. Ia tersenyum dengan sadar. Ia tidak ingin senyum itu menjadi topeng.
Babak tanya jawab dimulai. Seorang juri mengajukan pertanyaan tentang bagaimana perempuan menghadapi stereotip di ruang publik yang masih sarat penilaian fisik.
Nadira menarik napas panjang. Ia tidak ingin menjawab dengan kalimat hafalan.
“Perempuan sering dinilai dari apa yang terlihat,” ujarnya tenang. “Padahal yang tidak terlihat jauh lebih nyata. Pikiran, kerja keras, dan keberanian tidak selalu tampak di foto. Jika panggung ini memberi ruang untuk suara kami, maka suara itu harus digunakan untuk perubahan. Jika tidak, maka mahkota hanya menjadi hiasan tanpa arti.”
Aula hening. Beberapa penonton bertepuk tangan perlahan. Ia tidak tahu bagaimana juri menilai jawabannya, tetapi ia tahu ia telah berbicara dengan jujur.
Saat pengumuman pemenang dibacakan, namanya tidak disebut. Mahkota disematkan pada kepala peserta lain. Tepuk tangan menggema. Nadira tersenyum dan memberi selamat dengan tulus. Ada rasa kecewa yang singkat, tetapi tidak menyakitkan.
Di ruang rias, ia membuka ponselnya. Pesan masuk bertubi-tubi. Ada pujian atas jawabannya. Ada pula komentar sinis yang meragukan ketulusannya. Potongan videonya sudah tersebar dengan berbagai judul yang sensasional.
Ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Riasan mulai memudar. Matanya terlihat lebih jernih daripada sebelumnya.
Seorang panitia menghampirinya dan berkata bahwa jawabannya menjadi perbincangan hangat. Nadira mengangguk sopan. Ia tidak ingin larut dalam pujian ataupun cercaan.
Beberapa hari kemudian, ia kembali ke kampung halaman. Tidak ada lampu sorot. Tidak ada kamera. Hanya jalanan kecil dan rumah-rumah sederhana.
Anak-anak menyambutnya dengan antusias. Mereka berlarian sambil memanggil namanya. Perpustakaan kecil yang ia rintis masih berdiri di sudut balai warga. Rak-rak kayu berisi buku bacaan sumbangan.
Ia duduk bersama mereka dan membaca cerita dengan suara lantang. Anak-anak itu tidak peduli pada hasil kompetisi. Mereka tidak menanyakan tentang gaun atau mahkota. Mereka hanya ingin mendengar kisah dan bercita-cita.
Di situlah Nadira merasakan makna yang sesungguhnya. Panggung bukan hanya tempat yang glamour. Panggung bisa berupa ruang kecil yang dipenuhi tawa dan rasa ingin tahu.
Suatu malam, ibunya duduk di sampingnya di teras rumah.
“Kamu sudah berusaha dengan baik,” ujar ibunya pelan.
“Aku tidak membawa pulang mahkota,” kata Nadira.
“Kamu membawa pulang pengalaman dan keyakinan,” jawab sang ibu.
Nadira terdiam. Ia menyadari bahwa perjalanan itu bukan tentang menang atau kalah. Ia belajar memahami cara kerja sistem industri kecantikan. Ia memahami bahwa pemberdayaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang sempurna. Kadang ia bercampur dengan kepentingan industri dan selera pasar.
Namun, ia juga belajar bahwa suara pribadi tidak boleh hilang. Ia tidak ingin menjadi objek perdebatan yang hanya dinilai dari luar. Ia ingin menjadi subjek yang menentukan arah langkahnya sendiri.
Kontroversi tentang ajang kecantikan mungkin tidak akan pernah selesai. Akan selalu ada kritik tentang eksploitasi tubuh dan standar kecantikan. Akan selalu ada pula pembelaan tentang peluang dan prestasi.
Nadira memilih berdiri di antara keduanya dengan sikap yang lebih matang. Ia tidak menolak panggung, tetapi ia juga tidak menggantungkan harga dirinya pada sorot lampu.
Mahkota hanyalah simbol. Ia bisa dikenakan dan dilepaskan. Ia bisa dipuji atau dicemooh. Namun harga diri dibangun dari kesadaran dan keberanian.
Suatu pagi, saat matahari terbit lebih terang setelah hujan semalam. Nadira berjalan menuju perpustakaan kecil itu lagi. Ia membawa beberapa buku baru. Anak-anak sudah menunggu.
Ia tersenyum. Di balik kilau mahkota yang pernah hampir menyentuh kepalanya, ia menemukan cahaya lain. Cahaya itu tidak berasal dari lampu panggung, melainkan dari keyakinan bahwa dirinya bermakna lebih dari sekadar penampilan.
Dan keyakinan itu tidak bisa dirampas oleh siapa pun.













