Azzani Alifi Akmal, Lahir Bersama Gempa dan Tumbuh dalam Kisah Pengabdian Sang Ayah

Berita, Feature, Terbaru285 Dilihat

Ada kelahiran yang disambut dengan tangis seorang bayi. Ada pula kelahiran yang kelak dikenang bersama suara gemuruh bumi.

Tujuh belas tahun lalu, tepat 30 September 2009 pukul 08.45 WIB, seorang bayi perempuan lahir di Kabupaten Muaro Bungo, daerah yang berada di perbatasan Sumatera Barat dan Jambi. Bayi mungil itu kemudian diberi nama Azzani Alifi Akmal.

Ia adalah putri seorang insan SAR yang saat itu sedang menapaki perjalanan pengabdian di dunia kemanusiaan dan kini bertugas di Basarnas Pusat.

Tak seorang pun menyangka, hari kelahirannya kelak menjadi salah satu tanggal yang penuh duka dalam sejarah Sumatera Barat.

Pagi itu, Azzani lahir dengan tangis yang tidak terlalu keras. Bagi sang ayah, tangis kecil tersebut justru seperti suara yang menenangkan seluruh dunia.

Di tengah haru menyambut buah hati, sang ayah menoleh kepada istrinya.

“Ma, terima kasih. Kamu telah berjuang untuk putri kita.”

Kalimat sederhana itu menyimpan rasa syukur yang sulit diukur dengan kata-kata.

Sesaat setelah bayi kecil itu diqamatkan, sebuah nama seolah hadir begitu saja dari lubuk hati sang ayah.

“Ma, mari kita beri nama anak kita Azzani Alifi Akmal.”

Sang istri tersenyum.

Tidak ada rapat keluarga, tidak ada musyawarah panjang, ataupun daftar nama yang disusun berhari-hari. Nama itu lahir spontan setelah sang ayah mengumandangkan qamat untuk putri kecilnya.

Ada satu momen yang kemudian selalu dikenang.

Ketika nama Azzani Alifi Akmal disebut, tangis sang bayi berhenti. Ia tersenyum.

Senyum kecil yang mungkin hanya berlangsung sesaat, tetapi bagi seorang ayah, cukup untuk memenuhi ruang hatinya.

Pukul 08.45, Sebuah Kehidupan Dimulai

Pagi itu, keluarga kecil tersebut tentu tidak pernah membayangkan apa yang akan terjadi beberapa jam kemudian.

Telepon ucapan selamat atas kelahiran Azzani mulai berdatangan. Salah satunya datang dari Neneng, sahabat sang ibu.

“Selamat ya, Vi dan Bang Akmal.”

Ucapan tersebut kemudian dikenang dengan cara yang berbeda.

Beberapa jam setelahnya, tepat pukul 17.16 WIB, bumi Sumatera Barat berguncang hebat. Gempa berkekuatan besar mengguncang Ranah Minang dan menimbulkan kerusakan serta korban jiwa dalam jumlah besar.

Di antara mereka terdapat Neneng.

Sahabat sang ibu yang pada pagi harinya masih mengirimkan ucapan selamat atas kelahiran Azzani, ternyata menjadi salah satu korban bencana pada hari yang sama.

Satu hari. Dua peristiwa.

Satu kehidupan baru dimulai, sementara begitu banyak kehidupan lain harus berakhir.

Sejak saat itu, tanggal 30 September bagi keluarga Azzani bukan sekadar hari ulang tahun. Tanggal tersebut menyimpan dua wajah kehidupan sekaligus: kelahiran dan kehilangan, kebahagiaan dan duka, senyum dan air mata.

Ketika Seorang Ayah Harus Pergi

Sehari setelah kelahirannya, Azzani harus meninggalkan rumah sakit. Dengan surat pernyataan atas permintaan sendiri, bayi kecil tersebut dibawa keluar dari rumah sakit dan kemudian dibawa ke Sungai Rumbai, Kabupaten Dharmasraya, tempat kelahiran ibunya.

Namun, sang ayah tidak dapat menetap lama bersama keluarganya.

Panggilan tugas telah datang.

Bencana besar melanda Sumatera Barat. Bagi seorang rescuer, panggilan kemanusiaan tidak mengenal waktu.

Tidak ada kesempatan untuk menunggu sampai keadaan benar-benar siap. Ketika manusia membutuhkan pertolongan, seorang penyelamat harus berangkat.

Di tengah suasana duka dan kekhawatiran, sang ayah harus meninggalkan istri dan bayi yang bahkan belum genap berusia dua hari.

Sang istri memahami. Tetapi memahami tidak berarti tanpa kesedihan.

“Nak, Papa sekarang pikirannya tidak lagi bersama kita, tapi sudah di Padang untuk tugasnya.”

Kalimat itu sederhana. Namun, di dalamnya tersimpan pengorbanan yang mungkin hanya benar-benar dipahami oleh keluarga seorang rescuer.

Sang ayah pun hanya mampu berkata:

“Maaf ya, Nak. Maaf ya, Ma…”

Anak Rescuer yang Belajar Memahami Kepergian

Tujuh belas tahun kemudian, kalimat itu masih memiliki tempat tersendiri di hati sang ayah.

Menjadi seorang rescuer berarti harus siap kehilangan banyak momen bersama keluarga.

Ketika orang lain berkumpul bersama anak dan istri, seorang rescuer bisa saja berada di tengah reruntuhan. Ketika seorang anak membutuhkan kehadiran ayahnya, sang ayah mungkin berada jauh, membantu seseorang yang bahkan tidak dikenalnya.

Dan ketika keluarga berharap sang ayah segera pulang, tugas kemanusiaan terkadang justru memanggilnya untuk kembali pergi.

Begitulah Azzani tumbuh.

Dengan cerita tentang ayah yang kerap harus pergi. Dengan seorang ibu yang menjadi tempat pertama untuk berbagi cerita. Dan dengan sebuah tanggal kelahiran yang setiap tahun selalu membawa kembali ingatan tentang gempa besar Sumatera Barat.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah: doa seorang ayah kepada putrinya.

Untuk Azzani yang Kini Berusia 17 Tahun

Kini, Azzani Alifi Akmal telah berusia 17 tahun. Ia tumbuh menjadi seorang remaja yang menimba ilmu di SMAN 4 Padang dan kini duduk di kelas XI.

Waktu bergerak begitu cepat.

Bayi kecil yang dahulu hanya mampu menangis dan tersenyum kini telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang sedang menatap masa depan.

Di usia ke-17 itu, sang ayah kembali menitipkan pesan.

Bukan pesan tentang harta. Bukan pula tentang jabatan atau kemewahan.

Melainkan pesan tentang bagaimana menjadi manusia yang baik.

“Untuk putriku tercinta, Azzani Alifi Akmal, selamat ulang tahunmu yang ke-17.”

“Jadilah anak yang selalu menyayangi Mama dan Papa.”

Sang ayah juga berpesan agar kelak, ketika Allah SWT mempertemukannya dengan jodoh, Azzani menjadi perempuan yang mampu menghormati dan menghargai pasangannya.

Baginya, menjadi perempuan bukan semata-mata tentang apa yang dimiliki, melainkan bagaimana seseorang mampu mencintai, menghormati, dan menjalankan tanggung jawab dengan tulus dan ikhlas.

Kepada sang istri, pesan itu pun kembali disampaikan:

“Mama, jaga dan bimbinglah Azzani Alifi Akmal dengan baik. Dan jangan lupa jaga kesehatan Mama selalu.”

Ada sesuatu yang kuat dari pesan tersebut.

Seorang ayah yang selama bertahun-tahun menjalankan tugas menyelamatkan orang lain ternyata menyimpan kekhawatiran yang sangat sederhana: memastikan anak dan istrinya tetap baik-baik saja.

Dari Hari yang Mengguncang Ranah Minang

Tujuh belas tahun telah berlalu sejak pagi ketika Azzani lahir.

Tujuh belas tahun pula telah berlalu sejak bumi Sumatera Barat berguncang hebat pada sore harinya.

Waktu mungkin telah menghapus sebagian detail dari ingatan. Namun, tidak bagi keluarga ini.

Setiap 30 September selalu menjadi pengingat bahwa kehidupan begitu dekat dengan dua hal yang tidak dapat dipisahkan: datang dan pergi.

Azzani datang ke dunia ketika matahari pagi masih bersinar. Beberapa jam kemudian, bumi berduka.

Sang ayah kemudian pergi menjalankan tugas kemanusiaan.

Sejak hari itu, perjalanan hidup Azzani tumbuh berdampingan dengan kisah pengabdian ayahnya.

Mungkin inilah salah satu pelajaran paling awal yang diberikan kehidupan kepadanya: cinta tidak selalu hadir dalam bentuk seseorang yang selalu berada di samping kita.

Kadang cinta hadir dalam bentuk seseorang yang harus pergi karena ada orang lain yang membutuhkan pertolongan.

Pengorbanan seorang ayah terkadang bukan tentang berapa banyak waktu yang dapat ia berikan kepada keluarganya, tetapi tentang keberaniannya meninggalkan keluarga demi menyelamatkan keluarga orang lain.

Doa untuk Anak, Doa untuk Negeri

Kini, harapan keluarga sederhana.

Semoga Azzani tumbuh menjadi perempuan salehah, berbakti kepada kedua orang tua, serta kelak mampu memberikan manfaat bagi bangsa dan negara.

Dari kisah kelahiran Azzani, terselip pula doa yang lebih besar.

Semoga negeri ini dijauhkan dari bencana, kecelakaan, dan berbagai kondisi yang membahayakan manusia.

Semoga Indonesia terus tumbuh menjadi negeri yang maju, masyarakatnya makmur dan sejahtera, serta memiliki sistem kemanusiaan yang semakin kuat dalam menghadapi berbagai bencana.

Sebab bagi keluarga Azzani, bencana bukan sekadar berita.

Bencana adalah bagian dari sejarah hidup mereka.

Ada yang lahir pada hari itu. Ada yang pergi untuk selamanya. Ada yang harus meninggalkan keluarga untuk menyelamatkan sesama.

Dan ada seorang anak perempuan yang kini telah berusia 17 tahun, membawa sebuah nama yang lahir dari bisikan hati seorang ayah.

Azzani Alifi Akmal.

Namanya mungkin lahir dalam keheningan sebuah kamar bersalin. Namun, perjalanan hidupnya tumbuh bersama sebuah peristiwa yang mengguncang sejarah Sumatera Barat.

Ia lahir pada pagi yang penuh kebahagiaan. Ia tumbuh di tengah kenangan tentang sebuah bencana. Dan hari ini, di usianya yang ke-17, ia berdiri sebagai generasi yang membawa harapan baru.

Untuk Azzani, semoga langkahmu selalu dipenuhi doa.

Semoga ilmu menjadi bekalmu. Semoga kasih sayang Mama dan Papa menjadi kekuatanmu. Dan semoga ke mana pun kehidupan membawamu, engkau selalu menjadi manusia yang memberi manfaat bagi sesama.

Sebab mungkin, tanpa disadari, sejak hari pertama kelahirannya, Azzani telah membawa sebuah pesan kehidupan:

Di tengah bencana sekalipun, selalu ada kehidupan baru yang harus dijaga, harapan yang harus dirawat, dan masa depan yang harus diperjuangkan.

Avignam Jagat Samagram.

Semoga seluruh alam semesta berada dalam keselamatan dan kedamaian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *