Rumah Nyaris Roboh, Ibu dan Anak Difabel di Taeh Baruah Butuh Hunian Layak

Berita, Peristiwa, Terbaru401 Dilihat

Limapuluh Kota, InvestigasiPublik.com — Kondisi memprihatinkan dialami Eka Putri (45), warga Jorong Dalam Koto, Nagari Taeh Baruah, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Bersama dua anaknya, Eka masih bertahan di sebuah rumah kayu yang kondisinya sudah lapuk dan sejumlah bagian bangunan mulai mengalami kerusakan.

Eka hidup bersama Muhammad Romel (21) dan putri bungsunya, Abel Adelia Putri (16), yang mengalami keterbatasan fisik sejak kecil. Di tengah kondisi tersebut, Eka mengaku harus menjalani kehidupan tanpa dukungan ekonomi dari suaminya yang telah lama meninggalkan rumah.

Rumah yang telah ditempati keluarga tersebut selama bertahun-tahun kini membutuhkan perbaikan. Dinding papan terlihat lapuk dan berlubang, sementara sejumlah tiang penyangga mulai miring.

Saat hujan deras, air disebut merembes masuk melalui bagian atap yang rusak. Kondisi itu membuat Eka harus memindahkan tempat tidur Abel agar putrinya tidak kehujanan.

Kondisi keluarga tersebut kemudian mendapat perhatian Tim Kemanusiaan Luak 50 yang mendatangi kediaman Eka pada Kamis (24/9/2026).

Tim tersebut sebelumnya pernah membantu Abel sekitar tiga tahun lalu berupa kursi roda yang bersumber dari donasi Yayasan Biksu Muda Peduli Bangsa Jakarta.

Kepada tim, Eka mengatakan dirinya masih menunggu adanya kepastian terkait bantuan perbaikan atau pembangunan rumah layak huni dari pemerintah.

“Kami masih menunggu bantuan rumah dari pemerintah serta kepastian yang jelas untuk rumah yang kami tempati ini. Perangkat nagari pun sudah hadir meninjau langsung rumah kami, namun hingga kini bantuan perbaikan belum juga terealisasi,” tutur Eka.

Masuk Data Prioritas Bantuan

Untuk memperoleh kejelasan mengenai usulan bantuan tersebut, Tim Media dan Relawan Kemanusiaan kemudian mendatangi Kantor Wali Nagari Taeh Baruah.

Pihak pemerintah nagari membenarkan bahwa keluarga Eka Putri tercatat dalam data desil prioritas kelayakan bantuan.

“Data untuk pengajuan bantuan rumah buat keluarga ini sebenarnya telah kami ajukan ke tingkat atas. Namun, sampai hari ini anggaran atau program perbaikan rumah layak huni untuk keluarga miskin tersebut memang belum diturunkan,” ujar perangkat nagari saat dikonfirmasi.

Dengan demikian, belum terealisasinya perbaikan rumah tersebut disebut berkaitan dengan belum tersedianya anggaran atau program yang dapat digunakan untuk merealisasikan usulan tersebut.

Bertahan dengan Penghasilan Serabutan

Di tengah keterbatasan ekonomi, Eka mengatakan dirinya tidak memiliki pekerjaan dengan penghasilan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus merawat Abel, ia hanya mengandalkan pekerjaan serabutan apabila ada warga sekitar yang membutuhkan tenaganya.

“Setiap hari saya hanya bisa berdoa agar rumah ini tidak roboh saat kami tidur. Suami sudah lama pergi, jadi tidak ada lagi yang bisa diandalkan untuk memperbaiki rumah. Jangankan untuk membangun rumah layak, untuk makan sehari-hari saja kami sering kesulitan dan dibantu oleh tetangga sekitar,” ungkapnya.

Kondisi rumah yang mengalami kerusakan membuat kebutuhan akan hunian yang lebih aman menjadi persoalan mendesak bagi keluarga tersebut.

Keluarga Eka berharap pemerintah daerah melalui instansi terkait dapat menindaklanjuti kondisi yang mereka alami. Selain pemerintah, perhatian juga diharapkan datang dari lembaga sosial, Baznas, komunitas kemanusiaan maupun masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap warga yang membutuhkan.

Bagi Eka, rumah layak bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga kebutuhan untuk memastikan dirinya bersama kedua anaknya, terutama Abel, dapat menjalani kehidupan dengan lebih aman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *