Mentawai, InvestigasiPublik.com – Perjuangan anak-anak sekolah di Desa Sagalubbeg, Kecamatan Siberut Barat Daya, Kabupaten Kepulauan Mentawai, untuk mencapai sekolah menjadi sorotan setelah video mereka menyeberangi sungai berarus deras viral di media sosial.
Dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat menerobos arus sungai dengan seragam sekolah. Tas dan perlengkapan belajar mereka basah terkena air. Pemandangan ini memunculkan keprihatinan sekaligus pertanyaan tentang jaminan keselamatan pelajar di wilayah yang akses infrastrukturnya masih terbatas.
Di tengah sorotan publik, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Kepulauan Mentawai, Brandus Donatus, mengungkapkan bahwa pembangunan akses menuju Sagalubbeg membutuhkan perencanaan, waktu, dan anggaran yang tidak sedikit.
“Untuk menjangkaunya itu masih butuh waktu dan anggaran yang sangat besar,” kata Brandus saat dikonfirmasi, Jumat (9/10/2026).
Menurutnya, pemerintah daerah telah merencanakan pembangunan akses jalan dari Simalitu menuju Desa Sagalubbeg. Selain itu, upaya membuka akses dari Sigapokna menuju Simalitu juga sedang dilakukan untuk memperbaiki konektivitas antarwilayah.
Jembatan Terhambat Persoalan Kawasan Hutan
Pembangunan jembatan menuju Desa Sagalubbeg disebut sedang dikerjakan. Namun, prosesnya menghadapi kendala teknis dan administratif, terutama terkait status kawasan hutan produksi yang memerlukan izin pinjam pakai kawasan.
Persoalan perizinan tersebut membuat proses pembangunan tidak bisa dilakukan begitu saja. Tahapan administrasi harus diselesaikan agar pembangunan dapat berjalan sesuai ketentuan dan menggunakan anggaran daerah secara tepat.
Di sisi lain, kondisi sungai yang dilintasi para siswa menyimpan risiko tersendiri. Dalam keadaan normal, lebar sungai diperkirakan sekitar tiga meter. Saat banjir, bentang aliran air itu dapat melebar hingga sembilan meter.
Perubahan tersebut membuat penyeberangan semakin berbahaya ketika debit air meningkat dan arus menguat. Bagi anak-anak yang harus pergi dan pulang sekolah, kondisi ini menjadi persoalan keselamatan yang tidak bisa menunggu selesainya proyek infrastruktur permanen.
Jembatan Darurat Jadi Solusi Sementara
Untuk mengurangi risiko selama pembangunan berlangsung, Dinas PU Mentawai mendorong keterlibatan pemerintah desa, pihak kecamatan, dan masyarakat dalam mengupayakan jembatan darurat.
“Penanganan sementara itulah kerja sama dengan desa, dengan camat, partisipasi bikin jembatan darurat,” ujar Brandus.
Ia menjelaskan, penanganan jalan dan jembatan perlu disesuaikan dengan kewenangan masing-masing. Jalan utama menjadi tanggung jawab Dinas PU, sedangkan pembangunan jalan lingkungan atau jalan setapak dapat disinergikan melalui Dana Desa maupun instansi terkait sesuai aturan yang berlaku.
Meski demikian, pembangunan jembatan darurat perlu memperhatikan kondisi sungai dan standar keselamatan. Langkah sementara tersebut diharapkan tidak sekadar menyediakan jalur penyeberangan, tetapi benar-benar mengurangi risiko bagi para siswa.
Keselamatan Pelajar Menjadi Perhatian Mendesak
Kasus di Sagalubbeg menunjukkan bahwa akses pendidikan tidak berhenti pada ketersediaan gedung sekolah dan tenaga pengajar. Keamanan perjalanan menuju sekolah juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan.
Masyarakat kini menantikan langkah konkret pemerintah dan pihak terkait untuk menghadirkan sarana penyeberangan yang aman sembari melanjutkan pembangunan infrastruktur permanen.
Selama akses tersebut belum tersedia, anak-anak masih berhadapan dengan risiko saat melintasi sungai, terutama ketika hujan turun dan debit air meningkat.
Karena itu, percepatan solusi sementara yang aman perlu menjadi perhatian bersama, tanpa mengabaikan penyelesaian perizinan dan pembangunan jembatan permanen. Jangan sampai perjuangan anak-anak untuk memperoleh pendidikan harus dibayar dengan ancaman keselamatan setiap hari.
