AHY: Kebutuhan Air Bersih Balikpapan Capai 2.500 Liter per Detik

Berita, Nasional, Terbaru240 Dilihat

Balikpapan, InvestigasiPublik.com – Ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan mendasar yang harus terus diperjuangkan agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik. Namun, pasokan air bersih di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, saat ini masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat meninjau sumur air Gunung Tembak di Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur, bersama Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, Kamis (8/10/2026).

Dalam kunjungan itu, AHY mendengar langsung apresiasi masyarakat yang telah merasakan manfaat sumur bor berkapasitas 10 liter per detik. Meski demikian, ia menilai upaya penambahan pasokan air bersih masih perlu diperluas.

“Tidak boleh ada masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih, terutama di masa kemarau, El Nino berkepanjangan,” ujar AHY.

Saat ini, ketersediaan air bersih di Balikpapan tercatat sekitar 1.500 liter per detik. Sementara itu, kebutuhan masyarakat mencapai kurang lebih 2.500 liter per detik. Artinya, masih terdapat kesenjangan pasokan sekitar 1.000 liter per detik yang perlu diatasi secara bertahap.

Menurut AHY, kondisi tersebut membutuhkan langkah bersama untuk meningkatkan kapasitas pasokan sekaligus menyiapkan solusi jangka panjang.

“Tadi saya mendengar langsung masyarakat yang mengapresiasi dan menerima manfaat dari sumur bor 10 liter per detik. Tapi tentu masih banyak hal yang perlu kita kerjakan karena harus tercukupi,” tuturnya.

Salah satu penerima manfaat sumber air Gunung Tembak adalah Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, yang memiliki sekitar 1.300 santri. Pesantren yang berdiri sejak 1976 itu telah menerima manfaat sumber air di kawasan Gunung Tembak sejak 1988.

Keberadaan sumber air tersebut membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menunjang kegiatan pendidikan di lingkungan pesantren.

AHY menyebut pembangunan sumur bor menjadi salah satu langkah yang perlu terus dikawal untuk menambah ketersediaan air bersih. Namun, peningkatan kapasitas harus direncanakan secara matang agar pasokan tambahan dapat memberikan manfaat berkelanjutan.

Selain pembangunan sumur bor, AHY juga menyoroti kemungkinan pemanfaatan pasokan air dari Sepaku Semoi, yang saat ini telah memenuhi kebutuhan di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Meski demikian, opsi tersebut masih membutuhkan perhitungan ulang secara menyeluruh, terutama karena jarak distribusi yang cukup jauh dan kebutuhan anggaran yang besar.

Untuk mendorong peningkatan pasokan air bersih di Balikpapan, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan akan mengawal koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum melalui balai terkait, pemerintah daerah, serta perusahaan daerah air minum.

AHY menegaskan, penambahan pasokan dapat dilakukan secara bertahap, tetapi harus menunjukkan kemajuan yang berkelanjutan.

“Yang penting, walaupun tidak bisa langsung besar suplai yang bisa kita tambahkan, tetapi selalu ada progres, selalu ada kemajuan. Sepuluh liter per detik, ditambah lagi 10 liter dan seterusnya,” katanya.

Ia berharap setiap penambahan kapasitas dapat semakin mendekatkan masyarakat pada layanan air bersih yang memadai, termasuk ketika menghadapi musim kemarau berkepanjangan.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, Kepala Balai Wilayah Sungai Kalimantan IV Samarinda Andri Rachmanto Wibowo, Kepala SNVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air Kalimantan IV Indrasto Dwicahyo, Direktur Utama Perumda Tirta Manuntung Balikpapan Yudhi Saharudin, serta perwakilan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Harja.

AHY juga didampingi Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Nazib Faizal; Staf Khusus Menko Agust Jovan Latuconsina, Sigit Raditya, dan Irjen Pol Arief Rachman; serta Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum Ahmad Khoirul Umam. (spa)