Stasiun Duku, Simpul Mobilitas yang Menghubungkan Berbagai Penjuru Sumatera Barat

Padang Pariaman, InvestigasiPublik.com — Peluit kereta api terdengar di tengah hamparan persawahan dan perbukitan Kabupaten Padang Pariaman. Di Korong Duku, Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai, Stasiun Duku menjadi salah satu titik penting dalam pergerakan masyarakat di Sumatera Barat.

Setiap hari, stasiun ini melayani masyarakat dengan beragam kepentingan. Ada pelajar yang berangkat menuntut ilmu, pekerja yang bepergian, pedagang, hingga wisatawan yang memanfaatkan kereta api sebagai bagian dari perjalanan mereka.

Secara geografis, Stasiun Duku berada pada jalur yang menghubungkan sejumlah kawasan, di antaranya Padang, Lubuk Alung, Pariaman, serta kawasan Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

Posisinya tersebut membuat Stasiun Duku tidak hanya berfungsi sebagai tempat naik dan turun penumpang, tetapi juga menjadi salah satu bagian dari konektivitas transportasi di Sumatera Barat.

Dari Jalur Sejarah hingga Konektivitas Bandara

Keberadaan Stasiun Duku tidak terlepas dari sejarah panjang perkeretaapian Sumatera Barat. Stasiun ini telah melewati berbagai fase perkembangan sejak era Staatsspoorwegen ter Sumatra’s Westkust.

Seiring perubahan kebutuhan masyarakat, fungsi dan tampilan stasiun juga mengalami perkembangan. Bangunan Stasiun Duku kini memadukan unsur modern dengan karakter arsitektur Minangkabau melalui bentuk atap gonjong.

Peran stasiun semakin berkembang setelah jalur kereta api menuju Bandara Internasional Minangkabau mulai beroperasi pada 2018.

Setahun kemudian, tepatnya 22 Maret 2019, KA Lembah Anai mulai melayani perjalanan dengan berhenti di Stasiun Duku. Layanan tersebut melengkapi KA Pariaman Ekspres yang sebelumnya telah melayani masyarakat.

Saat ini, Stasiun Duku disebut melayani naik dan turun penumpang pada seluruh layanan kereta api penumpang yang beroperasi di wilayah KAI Divre II Sumatera Barat.

Layani 751.429 Pelanggan

Aktivitas penumpang menjadi salah satu gambaran penting mengenai peran Stasiun Duku dalam sistem transportasi publik Sumatera Barat.

Data KAI mencatat, sepanjang 2021 hingga Semester I 2026, Stasiun Duku telah melayani 751.429 pelanggan.

Angka tersebut menunjukkan tingginya aktivitas perjalanan melalui stasiun tersebut sekaligus menggambarkan keberlanjutan penggunaan kereta api sebagai salah satu moda transportasi masyarakat.

Untuk menunjang pelayanan, Stasiun Duku dilengkapi sejumlah fasilitas, seperti ruang tunggu, ruang laktasi, area bermain anak, musala, serta area parkir kendaraan.

Fasilitas tersebut disediakan untuk mengakomodasi kebutuhan penumpang dengan latar belakang dan kepentingan perjalanan yang beragam.

Terhubung dengan Moda Transportasi Lain

Keunggulan lain Stasiun Duku berada pada konektivitasnya dengan moda transportasi lanjutan.

Setelah tiba di stasiun, masyarakat dapat melanjutkan perjalanan menggunakan sejumlah pilihan transportasi, termasuk angkutan umum antarkota, angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP), maupun transportasi berbasis aplikasi.

Kondisi tersebut memungkinkan perjalanan menggunakan kereta api dilanjutkan dengan moda transportasi lain sesuai tujuan masing-masing penumpang.

Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, mengatakan Stasiun Duku memiliki peran penting dalam mendukung konektivitas masyarakat.

“Stasiun Duku bukan hanya tempat naik dan turun penumpang, tetapi merupakan bagian dari ekosistem mobilitas masyarakat. Dengan melayani seluruh layanan kereta api penumpang di wilayah Divre II Sumatera Barat, didukung fasilitas yang memadai serta akses terhadap berbagai moda transportasi lanjutan, Stasiun Duku memiliki peran strategis dalam menghubungkan masyarakat dari dan menuju berbagai wilayah,” ujar Reza.

Menurutnya, keberadaan stasiun juga memberikan dampak terhadap aktivitas masyarakat di kawasan sekitarnya. Pelajar, mahasiswa, pekerja, wisatawan hingga masyarakat yang melakukan aktivitas perdagangan dapat memanfaatkan layanan kereta api untuk menunjang mobilitas.

Aktivitas penumpang yang berlangsung setiap hari juga berpotensi menggerakkan kegiatan ekonomi di sekitar kawasan stasiun, termasuk usaha masyarakat dan layanan transportasi lanjutan.

Menjaga Identitas Minangkabau

Di tengah fungsi transportasi modern, Stasiun Duku tetap mempertahankan unsur budaya lokal melalui arsitektur bangunannya.

Atap gonjong menjadi salah satu ciri yang menegaskan karakter Minangkabau pada bangunan stasiun. Unsur tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana fasilitas transportasi dapat mengadopsi perkembangan modern tanpa sepenuhnya meninggalkan identitas daerah.

Namun, keberadaan fasilitas dan tingginya aktivitas penumpang juga membutuhkan kesadaran bersama untuk menjaga keamanan, ketertiban dan kebersihan.

KAI mengimbau masyarakat mengikuti arahan petugas, tertib saat menggunakan fasilitas stasiun, menjaga kebersihan serta tidak melakukan aktivitas yang dapat membahayakan keselamatan di lingkungan stasiun maupun sekitar jalur kereta api.

“Keselamatan adalah budaya, bukan sekadar aturan. Karena itu, kami mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan keselamatan sebagai tanggung jawab bersama, termasuk ketika berada di lingkungan stasiun maupun di sekitar jalur kereta api,” kata Reza.

Stasiun Duku pada akhirnya tidak hanya menjadi titik keberangkatan dan kedatangan kereta api. Di tempat ini, berbagai kepentingan masyarakat bertemu dalam satu jalur perjalanan.

Dengan layanan seluruh kereta api penumpang di wilayah Divre II Sumatera Barat, fasilitas pendukung serta akses menuju berbagai moda transportasi lanjutan, Stasiun Duku terus menjadi salah satu simpul mobilitas masyarakat di Sumatera Barat.

Di tengah perubahan kebutuhan transportasi, tantangannya bukan hanya meningkatkan layanan, tetapi juga memastikan perjalanan berlangsung aman, tertib dan nyaman bagi seluruh pengguna.