Oleh: Novita Sari Yahya
Siapa bilang dunia akting hanya membutuhkan wajah menarik, penampilan yang baik, dan kemampuan menghafal dialog?
Akting adalah pekerjaan yang berhubungan langsung dengan manusia. Karena itu, seorang aktor tidak cukup hanya menguasai ekspresi, intonasi, gerak tubuh, dan dialog. Ia juga perlu memiliki kemampuan mengamati, memahami, merasakan, dan mempelajari kehidupan manusia yang akan diperankannya.
Semakin kompleks sebuah karakter, semakin besar pula kebutuhan seorang aktor untuk melakukan riset.
Bayangkan seorang pemeran harus memainkan perempuan berusia 50 tahun yang mengalami gangguan memori. Ia tidak cukup hanya membuat tatapan kosong, berbicara terbata-bata, atau berulang kali mengatakan bahwa dirinya lupa. Jika ingin menghadirkan karakter secara meyakinkan, ia perlu memahami bagaimana gangguan memori dapat memengaruhi perilaku, komunikasi, hubungan dengan keluarga, orientasi terhadap lingkungan, serta respons emosional seseorang.
Di sinilah pengetahuan dari berbagai bidang dapat membantu proses penciptaan karakter.
Aktor dapat membaca literatur medis, berdiskusi dengan dokter, psikolog, psikiater, neurolog, peneliti, atau caregiver. Ia juga dapat mempelajari pengalaman nyata orang-orang yang hidup dengan kondisi tersebut.
Tujuannya bukan agar aktor berubah menjadi dokter atau psikolog.
Tujuannya adalah agar ia tidak memainkan penyakit sebagai karikatur.
Seorang manusia yang mengalami gangguan memori tetap memiliki perasaan, sejarah kehidupan, hubungan dengan orang-orang yang dicintainya, serta pengalaman yang membentuk dirinya. Karakter seperti itu harus dimainkan dengan empati dan penghormatan.
Akting dan Dunia Pengetahuan
Sejarah perfilman juga memperlihatkan bahwa dunia seni peran tidak selalu terpisah dari dunia akademik dan profesi lain.
Haing S. Ngor, misalnya, memiliki latar belakang sebagai dokter sebelum dikenal sebagai aktor. Ia memerankan Dith Pran dalam The Killing Fields dan memenangkan Academy Award untuk Aktor Pendukung Terbaik pada 1985.
Natalie Portman merupakan lulusan psikologi Harvard University. Ia kemudian memenangkan Oscar sebagai Aktris Terbaik melalui Black Swan.
Jodie Foster menyelesaikan pendidikan di Yale University dengan predikat magna cum laude. Ia kemudian memenangkan dua Oscar sebagai Aktris Terbaik, masing-masing melalui The Accused dan The Silence of the Lambs.
Ada pula Rowan Atkinson yang memiliki latar belakang pendidikan teknik sebelum menjadi salah satu komedian dan aktor paling dikenal melalui karakter Mr. Bean.
Ken Jeong bahkan pernah menjalani profesi sebagai dokter sebelum berkarier penuh di dunia hiburan.
Contoh-contoh tersebut tidak berarti bahwa seseorang harus menjadi dokter, psikolog, lulusan universitas ternama, atau memiliki gelar tertentu untuk menjadi aktor.
Yang ingin saya tekankan justru sebaliknya.
Aktor tidak harus memiliki semua pengetahuan. Namun, aktor harus memiliki kemauan untuk terus belajar.
Aktor Adalah Pembelajar
Ketika menerima sebuah karakter, seorang aktor seharusnya tidak hanya bertanya, “Bagaimana saya terlihat seperti orang ini?”
Ada pertanyaan yang jauh lebih penting.
Siapa sebenarnya manusia yang saya perankan?
Apa yang pernah dialaminya?
Apa yang membuatnya takut?
Apa yang membuatnya bahagia?
Mengapa ia berbicara dengan cara tertentu?
Mengapa ia mengambil keputusan tertentu?
Bagaimana lingkungan, keluarga, budaya, pekerjaan, usia, pengalaman hidup, dan keadaan psikologis memengaruhi perilakunya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat proses akting menjadi jauh lebih dalam daripada sekadar menghafalkan dialog.
Bagi saya, seorang aktor yang serius terhadap pekerjaannya adalah seorang pembelajar seumur hidup. Ia belajar dari buku, manusia, lingkungan, sejarah, budaya, pengalaman, bahkan dari kegagalan dirinya sendiri.
Ketika memainkan karakter yang memiliki kondisi tertentu, pengetahuan menjadi alat untuk membangun kejujuran dalam berakting.
Empati menjadi alat untuk memahami perasaan karakter.
Imajinasi menjadi alat untuk memasuki kehidupan yang bukan miliknya.
Sementara pengalaman menjadi bahan untuk memberikan jiwa kepada karakter tersebut.
Ketika Peneliti Memasuki Dunia Akting
Ketika seseorang yang memiliki pengalaman sebagai penulis, peneliti, atau profesional kesehatan memasuki dunia akting, pengalaman sebelumnya tidak harus ditinggalkan.
Justru pengalaman itu dapat menjadi bekal.
Ketika saya mencoba memahami karakter perempuan paruh baya yang mengalami kehilangan memori, saya tidak ingin sekadar terlihat seperti orang yang lupa.
Saya ingin memahami manusia di balik kondisi tersebut.
Bagaimana rasanya ketika seseorang mulai kehilangan bagian dari kehidupannya sendiri? Bagaimana perasaan seorang ibu ketika wajah orang yang dicintainya perlahan menjadi asing? Bagaimana seseorang menghadapi rasa takut ketika dirinya sendiri tidak lagi sepenuhnya mengenali dunia di sekitarnya?
Pertanyaan seperti itulah yang menurut saya penting dalam proses penciptaan karakter.
Pada akhirnya, akting bukan sekadar berpura-pura menjadi orang lain.
Akting adalah usaha memahami manusia lain dengan sebaik-baiknya, kemudian menerjemahkan pemahaman itu melalui suara, tatapan, gerak tubuh, ekspresi, dan emosi.
Karena itu, dunia akting juga membutuhkan pengamat, pembaca, peneliti, dokter, psikolog, penulis, sejarawan, seniman, dan siapa pun yang memiliki rasa ingin tahu terhadap kehidupan.
Bukan karena seorang aktor harus menguasai seluruh ilmu pengetahuan.
Melainkan karena aktor harus mempunyai kerendahan hati untuk mengatakan:
“Saya belum memahami karakter ini. Karena itu, saya harus belajar.”
Bagi saya, justru dari situlah seni peran yang sesungguhnya dimulai.
Bukan dari kamera.
Bukan dari popularitas.
Bukan pula dari sekadar penampilan.
Tetapi dari keinginan untuk memahami manusia.
