Guangzhou, InvestigasiPublik.com — Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Indonesia, Insannul Kamil, menjadi pembicara kunci dalam The 4th ASEAN-China Forum on Building Industry yang berlangsung di Guangzhou, China, 22–23 September 2026.
Dalam forum tersebut, Insannul menekankan pentingnya peningkatan kualitas kerja sama Indonesia, China dan negara-negara ASEAN dalam pengembangan industri konstruksi, tidak hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga penguatan kapasitas industri nasional.
Forum yang mengangkat tema “Exploring New Opportunities, Building New Cities Together” itu diselenggarakan China Construction News Agency di bawah Kementerian Perumahan dan Pembangunan Perkotaan-Pedesaan China atau Ministry of Housing and Urban-Rural Development (MOHURD).
Rangkaian kegiatan diawali dengan technical visit ke Guangdong-Hong Kong-Macao Construction Robot Exhibition. Para peserta melihat perkembangan teknologi robotik dan penerapannya dalam industri konstruksi pintar atau smart construction di China.
Dalam paparannya, Insannul menjelaskan Indonesia memiliki ekosistem pembangunan yang strategis dengan pasar nasional yang besar, kebutuhan pembangunan infrastruktur, transformasi industri, sumber daya serta posisi strategis sebagai bagian dari ASEAN.
Menurutnya, hubungan investasi Indonesia dan China kini telah berkembang ke berbagai sektor, mulai dari industri, infrastruktur, energi, teknologi, logistik hingga konstruksi.
Namun, ia menilai perkembangan tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kualitas kemitraan agar kerja sama tidak berhenti pada pelaksanaan proyek.
“Tahap berikutnya bukan sekadar memperbanyak proyek konstruksi dan infrastruktur, tetapi meningkatkan kualitas kemitraan dengan menghubungkan investasi China dengan perusahaan nasional, SDM profesional, rantai pasok lokal, transfer teknologi, peningkatan kompetensi tenaga kerja konstruksi, kualitas, keselamatan, dan kepatuhan,” ujar Insannul Kamil.
LPJK Dorong Nilai Tambah bagi Industri Nasional
Ketua Umum Badan Keahlian Mesin (BKM) Persatuan Insinyur Indonesia (PII) tersebut juga menempatkan LPJK sebagai salah satu penghubung antara investasi global dan kapasitas industri konstruksi nasional.
Menurut Insannul, investasi di sektor konstruksi perlu memberikan dampak lebih luas bagi penguatan kemampuan nasional, termasuk peningkatan kapasitas perusahaan, tenaga profesional dan rantai pasok dalam negeri.
Ia menilai keberhasilan kerja sama tidak semata-mata diukur dari terbangunnya aset fisik, tetapi juga dari kemampuan industri nasional memperoleh pengetahuan, teknologi dan kompetensi baru.
“Perusahaan tidak hanya memperoleh pekerjaan, tetapi harus naik kelas. Hubungan bilateral juga tidak berhenti pada Indonesia–China, melainkan berkembang menuju kolaborasi konstruksi ASEAN yang lebih kuat,” jelasnya.
Teknologi Jadi Bagian Penting Industri Konstruksi
Dalam forum tersebut, Insannul juga menyoroti perkembangan teknologi yang semakin memengaruhi industri konstruksi.
Menurutnya, perusahaan konstruksi perlu beradaptasi dengan berbagai inovasi digital, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), machine learning, digital twin, building information modeling (BIM), komputasi awan dan teknologi lainnya.
Perkembangan tersebut dinilai akan memengaruhi cara industri merencanakan, membangun, mengawasi dan mengelola proyek konstruksi pada masa mendatang.
Selain penguatan teknologi, kolaborasi regional juga dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan daya saing industri konstruksi di kawasan ASEAN.
Forum ASEAN-China tersebut menjadi ruang pertukaran pandangan antara para pemangku kepentingan industri konstruksi mengenai peluang kerja sama, perkembangan teknologi, peningkatan kapasitas SDM serta pembangunan kota masa depan yang berkelanjutan. (DY)
