Oleh Novita Sari Yahya
Srikandi dalam Kesetiaan Lelakimu bukan sekadar gambaran perempuan yang berani. Ia merupakan simbol perempuan Indonesia yang memilih berdiri di garda terdepan untuk memperjuangkan kelompok yang terpinggirkan, terutama perempuan dan anak.
Menjadi aktivis bukan pekerjaan yang mudah. Aktivisme adalah pekerjaan yang sangat rumit karena sering kali harus berhadapan dengan kekuasaan, ketidakadilan, kemiskinan, ketimpangan sosial, dan berbagai kepentingan yang saling bertabrakan. Seorang aktivis tidak seharusnya menjadi penjilat kekuasaan demi memperoleh kedudukan, fasilitas, atau keuntungan pribadi. Sebaliknya, aktivisme seharusnya menjadi jalan untuk memperkuat masyarakat agar mampu memahami persoalannya sendiri dan memiliki kemampuan untuk memperjuangkan kehidupannya.
Gagasan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam Kesetiaan Lelakimu. Novel ini menggambarkan kehidupan perempuan dan aktivisme dalam konteks Indonesia pada periode 1980–1990-an, ketika kekuasaan Orde Baru berada dalam posisi yang kuat dan ruang gerak masyarakat sipil menghadapi berbagai keterbatasan.
Dalam situasi seperti itu, memilih menjadi aktivis membutuhkan keberanian. Perempuan yang bekerja untuk masyarakat tidak hanya menghadapi persoalan kemiskinan, pendidikan, ketidakadilan, dan perlindungan anak, tetapi juga harus berhadapan dengan struktur kekuasaan yang jauh lebih besar daripada dirinya.
Namun perjuangan seorang aktivis tidak selalu dilakukan dengan perlawanan terbuka. Ada perjuangan melalui pendidikan, penelitian, pendampingan, organisasi sosial, penguatan ekonomi, literasi, perlindungan perempuan dan anak, serta pembangunan kesadaran masyarakat.
Pemberdayaan menjadi kata kunci.
Masyarakat tidak cukup hanya diberi bantuan. Mereka perlu dibekali pengetahuan, keterampilan, akses, dan keberanian agar mampu berdiri di atas kemampuan sendiri. Karena itu, bantuan atau hibah dari lembaga asing yang diperuntukkan bagi program sosial seharusnya dipandang sebagai amanah. Dana tersebut harus digunakan untuk pembangunan dan pemberdayaan perempuan serta anak, bukan menjadi sarana memperkaya diri.
Di sinilah sosok Srikandi dalam Kesetiaan Lelakimu mendapatkan maknanya.
Srikandi bukan perempuan yang mencari panggung. Ia bekerja karena kepedulian. Ia menggunakan pendidikan dan kecerdasannya untuk memahami persoalan masyarakat. Ia memiliki empati terhadap mereka yang tidak memiliki akses terhadap kekuasaan. Ia juga memahami bahwa perubahan tidak dapat dibangun hanya dengan kata-kata, tetapi membutuhkan kerja nyata dan konsistensi.
Perempuan seperti inilah yang saya maksud sebagai wajah perempuan Indonesia yang progresif.
Ia terdidik, tetapi tidak merasa lebih tinggi daripada masyarakat yang didampinginya. Ia cerdas, tetapi menggunakan kecerdasannya untuk memberdayakan. Ia berani, tetapi keberaniannya bukan untuk menunjukkan ego. Ia memiliki empati dan menjadikan ilmu sebagai alat untuk membantu masyarakat keluar dari kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan.
Melalui Kesetiaan Lelakimu, saya ingin menghadirkan kembali ingatan tentang perempuan-perempuan yang bekerja dalam ruang sosial dengan segala keterbatasannya. Mereka mungkin tidak selalu tercatat dalam sejarah besar bangsa. Mereka tidak selalu mendapatkan penghargaan atau panggung. Namun, kerja mereka meninggalkan jejak melalui manusia-manusia yang pernah mereka bantu.
Srikandi sejati bukan sekadar perempuan yang berani melawan.
Srikandi adalah perempuan yang berani berdiri bersama masyarakat.
Ia menjadikan keberanian sebagai pengabdian, pendidikan sebagai kekuatan, empati sebagai landasan, dan pemberdayaan sebagai tujuan.
Itulah salah satu wajah perempuan Indonesia yang ingin saya hadirkan melalui Kesetiaan Lelakimu.
